Bibit, Bebet, Bobot…bobok yuk!

Ini adalah kutipan sebuah postingan milis yang saya ikuti dan oleh seseorang yang namanya sebenarnya cukup dikenal dalam komunitas itu secara penguasaan ilmu pada bidangnya.

* Saudara Heri Sutadi hanya disebut sebagai Pengamat Teknologi Informasi, dan bekerja di sebuah organisasi Sistem Informasi. Tidak jelas latarbelakang pendidikan formalnya dan praktek profesionalnya.

Kadang ya capek ngebaca postingan seperti ini, secara pribadi sih kalau emang menulis hal yang bagus dan objektif kenapa sih kita ndak bisa lapang dada menerimanya sebagai bahan evaluasi. Kenapa kalau ada satu tulisan yang sekiranya menyudutkan satu pihak tertentu jadi seperti budaya kita untuk langsung mencari hal-hal untuk menepisnya, bahkan sampai pada sisi yang sebenarnya sama sekali ndak ada sangkut paut dengan materi yang ditulisnya.

Apa salah kalau anak bajingan bicara soal shalat, mengagungkan Tuhan seperti layaknya seorang kiyai atau pendeta agung? Lha kalau memang isi materinya benar ya kenapa ndak menerima, bukan malah mencari-cari apa latar belakangnya karena sudah berani ngomong seperti itu. Apa bisa memastikan air yang ada dalam gelas itu rasanya pasti masam hanya karena gelas itu berwarna kuning oranye?

Padahal dah banyak banget kenyataan yang musti kita terima bahwa latar belakang ndak menentukan kualitas orang. Kalau bicara soal teknologi, ndak usah lah jauh-jauh dengan apa yg terjadi di luar sana. Sisi KPU sendiri yang sebenarnya jadi topik dalam postingan itu yang orang-orangnya punya nama dan latar belakang yang mentereng, ya nyatanya tetep bisa dikibuli oleh mahasiswa yang kuliahnya justru ndak ada kaitannya dengan ilmu komputer. Apa masih belum cukup-cukup jadi pelajaran kita untuk ndak memandang usul/argumen seseorang atas dasar latar belakang itu?

**sigh… -(

2 thoughts on “Bibit, Bebet, Bobot…bobok yuk!

  1. rita 27 Maret 2007 pukul 2:33 pm

    hm..yup, setuju..agree..gitulah
    rasanya hakikat kebenaran bukan monopoli orang2 yg belajar ketuhanan. terkadang dari mulut buaya menyadarkan kita betapa lebarnya ia, sampai-sampai kuda nil bisa ditelannya bulat2. maksutnya..bukan pembual kalo bajingan bilang tentang sholat. bisa jadi ia lebih memahami maknan sholat tersebut, sekalipun prakteknya nol..

  2. eksa 27 Maret 2007 pukul 4:39 pm

    Lalu sikap kita gimana? Apa ya trus cuman pasrah liat buaya2 menelan kuda nil (padahal dari reality kehidupan binatang yang namanya buaya itu paling ga doyan makan kuda nil lho..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: