Catatan saya tentang pendidikan IT di Indonesia

Berawal dari blogwalking dan menemukan artikel yang ditulis oleh Dudi Gunardi, tentang perbedaan programmer otodidak dan lulusan informatika saya jadi teringat diskusi di milis (eks) kampus saya dulu, yang topiknya selalu berulang-ulang setiap ada mahasiswa baru. Beberapa pertanyaan yang sering sekali muncul :

* Saya kuliah kok malah diajarin Pascal, bukannya VB.net atau Java ?
* Terlalu banyak matakuliah tidak berguna di S1 ilmu komputer, seperti kalkulus, matematika diskrit atau bahkan geometri!
* Sudah 3 tahun saya kuliah, saya tidak mendapatkan apa-apa (apalagi jika fasilitas kurang mencukupi)
* Kuliah terlalu banyak teori, belajar jaringan kok tidak langsung praktikum pasang-pasang kabel atau setting router ?
* Saya kok tidak diajari MS Office, Photoshop atau banyak bahasa pemrograman!
* dll

Banyak sekali dan sebagian besar berputar-putar di sana. Berbicara tentang kualitas lulusan (sarjana) di bidang informatika ini, atau muncul fenomena seperti yang mas Dudi tulis yang ujungnya berkaitan dengan kesiapan lulusan perguruan tinggi untuk bisa langsung bekerja. Gap!.

Saya sendiri mungkin selama 4-5 tahun kuliah S1 masih belum menemukan jawabnya dan bertanya-tanya. Bagaimana tidak, IT ternyata sangat mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak “makan perguruan tinggi”, itu anggapan saya dulu. Beda dengan bidang kedokteran atau arsitektur. Kok saya tidak pernah mendengar ada dokter atau arsitek yang berasal dari lulusan ekonomi atau pertanian ya ?

Seiring waktu saya memperoleh beberapa hal sbb.

Mispersepsi goal dari pendidikan tinggi level sarjana (S1-S3) . Ini yang kadang tidak disadari. Sepemahaman saya, jenjang S1 (ke atas) memang dirancang untuk pendidikan dengan framework akademik, sehingga di sana banyak diberikan pemahaman akan teori atau konsep berpikir. Memang ada beberapa yang dipadukan dengan keterampilan praktis, tapi itu sifatnya hanya pendukung saja. Satu kompetensi yang harus ada pada seorang sarjana adalah melakukan penelitian dan pengembangan keilmuan. Dalam konteks ilmu komputer/informatika, inilah alasan kenapa kuliah-kuliah “matematika diskrit”, “teori komputasi”, dll juga menjadi prioritas.

Sebagai komplemen diciptakanlah program yang sifatnya lebih praktis/keterampilan, seperti program diploma ataupun profesi. Kendati demikian, program ini juga tetap menekankan pada conceptual framework. Banyak orang yang mengasosiasikan program diploma sebagai “lower level” dari program sarjana, padahal sebetulnya tidak. Ada program D4 (sarjana terapan) yang sepemahaman saya ini selevel dengan S1. CMIIW.

Munculnya program-program profesi bisa menjadi “jembatan” sementara dari gap ini, Yang sudah lama ada misalnya profesi dokter, apoteker dan notaris. Baru-baru ini muncul program profesi akuntan atau bahkan insinyur untuk sarjana teknik. Demikian pula program profesi dalam bentuk sertifikasi keahlian (CISA, MCP, PMP, CCNA, dkk).

Kemudian pasti akan ada pertanyaan “kalau gitu, kenapa harus ada S1, bukannya kita kuliah supaya cepat bekerja?”.

Menurut saya ini kurang tepat. Alur berpikirnya terbalik. Bukan kita kuliah supaya bisa dapat kerja, tapi seharusnya pekerjaan (industri/bisnis)-lah yang membutuhkan orang-orang berkualifikasi S1. Lalu mengapa di Indonesia kenyataannya seperti ini ? karena industri di Indonesia masih terfokus pada produksi, tidak riset/perancangan. Seorang sarjana ilmu komputer, seharusnya masuk ke industri sebagai periset atau perancang sistem/solusi, bukannya tenaga programmer apalagi technical support IMO.

Jika anda hanya ingin cepat mahir menguasai teknik pemrograman Java, melakukan instalasi LAN atau cepat menguasai router CISCO sehingga bisa segera bekerja, kenapa harus kuliah S1 selama 5 tahun (apalagi biaya S1 sekarang mahal) ? Anda cukup memahami sedikit saja konsep pemrograman serta jaringan (otodidak saja) dan ikut program keterampilan/sertifikasi di lembaga-lembaga yang jumlahnya menjamur, dan perbanyak latihan. Itu saja!. Saya sendiri pernah menjadi programmer Delphi ya dengan otodidak. Tapi saat ini, ketika saya mulai bekerja di level perancangan atau bahkan manajemen, barulah buku-buku Software Engineering-nya Pressman yang diajarkan dulu mulai dibuka lagi.

Dengan bahasa lain apakah saya bisa mengatakan bahwa industri di Indonesia sebagian besar masih membutuhkan kualifikasi praktisi/profesi ketimbang seorang sarjana ?

Yang kedua, pertanyaan-pertanyaan tadi muncul karena mungkin mispersepsi tentang ilmu komputer itu sendiri.

Satu hal lain yang memang menjadi keunggulan sekaligus tantangan orang IT adalah bahwa perkembangan IT ini sangat pesat sehingga hal-hal yang bersifat skills memang harus selalu ditingkatkan dengan cepat. Dengan dukungan conceptual framework yang matang, logikanya orang yang punya latar belakang akademis IT akan lebih cepat menyesuaikan. Akan tetapi bagaimanapun, pada era informasi ini : knowledge is power, siapa yang lebih cepat dan banyak menguasai pengetahuan/informasi, dia akan memenangkan persaingan.

One thought on “Catatan saya tentang pendidikan IT di Indonesia

  1. akuntan publik 21 Juni 2013 pukul 4:26 pm

    I believe this is among the such a lot significant information for
    me. And i’m satisfied studying your article. But should observation on few general things, The web site taste is perfect, the articles is in point of fact excellent : D. Good process, cheers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: