Arsip Bulanan: Agustus 2008

Kenapa sih pake diwajibkan Sholat segala?

Setiap hari, paling tidak kita harus melaksanakan kewajiban Sholat 5 waktu, mulai dari pagi sampai petang.

Sholat adalah pekerjaan yang berat, bagi orang-orang yang belum mengetahui nikmatnya Sholat.

Kenapa sih kita pake diwajibkan Sholat segala?

Sebenarnya Allah s.w.t tidak membutuhkan kita sholat. Tidak hanya sholat, Allah tidak membutuhkan apapun dari kita. Kita sholat atau tidak, kita taat atau tidak, kita kafir atau tidak. Allah tetap Allah yang maha segalanya.

Seandainya seluruh manusia itu kafir kepada Allah, tidak akan mengurangi kekuasaannya. Tidak akan mengurangi keperkasaannya, dan tidak akan mengurangi maha Pengasihnya dengan tetap memberikan rizki kepada manusia.

Sholat yang diwajibkan Allah itu sebenarnya adalah bukan KEWAJIBAN kita, melainkan HAK kita. Kita yang membutuhkan dan memerlukan, kita yang begitu bergantung pada Allah, sedang Allah pada dasarnya tidak butuh apa-apa.

Kalau sebenarnya itu Hak kita, kenapa Allah sampai mewajibkan kita?

Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah ke kita. Allah mewajibkan kita sholat bukan untuk keperluan Allah, tapi untuk keperluan manusia. Allah memberikan sarana pengingat kepada kita.

Coba kita bayangkan, Allah sudah membantu kita dengan sarana mewajibkan Sholat saja masih begitu banyak yang sholatnya bolong-bolong atau bahkan tidak melaksanakan sholat sama sekali. Apalagi jika Allah tidak mewajibkan sholat?

Untuk itu marilah kita mulai dengan kesadaran penuh mendirikan sholat.

Iklan

Menata pikiran di dalam shalat

Ketenangan pikiran, konon, “merupakan hal yang terpenting untuk memulai berdialog dengan Allah, sehingga kita bisa menerima kehadiran ilham ke dalam jiwa.” Atas dasar itu, banyak orang menanamkan kesan bahwa untuk mencapai kekhusyukan shalat, pikiran kita harus pasif dalam keheningan.

Haruskah demikian? Tunggu dulu! Kita sepakat, tujuan shalat adalah ingat Allah. (Lihat QS Tha Ha [20]: 14) Supaya ingat, kita perlu mengaktifkan pikiran di dalam shalat. Iya, nggak?

Memang sih, bisa saja kita tiba-tiba ingat sesuatu walaupun tidak sedang mengaktifkan pikiran. Namun, ingat itu jauh lebih sering terjadi ketika pikiran diaktifkan. (Karenanya, setiap mengerjakan tes mengenai materi yang pernah kita pelajari, kita memilih mengaktifkan pikiran untuk mengingat-ingat jawaban-jawabannya daripada mempasifkan pikiran, ‘kan?)

Tentu saja, tidak semua pikiran kita yang aktif itu akan menjadikan kita ingat. Ada kalanya, walau sudah mengerahkan pikiran, Anda masih gagal untuk menjadi ingat.

Apakah kegagalan itu terjadi karena otak Anda bebal? Belum tentu! Bisa saja, sebetulnya Anda cerdas, tetapi pikiran Anda kurang tertata. Ketika dibutuhkan, otak kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Persis seperti arsip yang tidak tertata rapi. Ketika membutuhkannya, kita kebingungan mencari-cari.

Lain halnya dengan arsip yang tertata rapi. Ketika memerlukannya, dengan mudah kita menemukannya. Begitu pula dengan pikiran. Dengan pikiran yang tertata, kita lebih bisa menjadi ingat.

Secara demikian, pikiran yang tertata (sistematis) di dalam shalat akan menjadikan kita lebih mampu untuk ingat Allah. Dengan kata lain, sistematisnya pikiran kita di dalam shalat membuat kita lebih mudah mencapai tujuan shalat. (Asyiiik…)

Begitulah salah satu manfaat sistematisnya pikiran. Selain itu, pikiran yang tertata menciptakan rasa khusyuk dalam shalat. (Asyik, asyik, asyiiik…)

Jadi, ayolah kita sistematiskan pikiran kita dalam shalat. Tunggu apa lagi?

Oh ya, Anda mau tahu bagaimana caranya? Ada banyak cara yang bisa kita manfaatkan. Dua di antaranya adalah:

1.manfaatkan lamunan dalam shalat

Untuk contoh “lamunan dalam shalat”, silakan simak curhat dari Dr. Ir. TA Fauzi, seorang dosen ITB, sebagaimana termuat di buku Pelatihan Shalat Khusyu’ (hlm. 124):

Saya masih bingung. Bila ada jawaban masalah duniawi terlintas di pikiran sewaktu shalat, apakah itu ilham yang saya dapatkan atau[kah] shalat saya tidak khusyu. Apakah ilham harus diperoleh setelah shalat atau[kah] dapat sewaktu shalat?

Terhadap lamunan atau pikiran yang menyimpang (dari tujuan shalat) seperti itu, bagaimana sebaiknya?

Saya yakin, ilham itu bisa dan boleh diperoleh sewaktu kita bershalat. Landasan saya adalah pengakuan Umar r.a. sebagaimana termuat di buku Pedoman Shalat (hlm. 217): “Sesungguhnya aku merencanakan pengerahan pasukanku saat aku bershalat.” (HR Bukhari)

Untuk contoh, bayangkanlah bahwa Anda sedang merasa geram menyaksikan darah mengalir di Palestina dan Libanon gara-gara ganasnya serbuan pasukan Israel. Lantas, Anda bershalat dengan tujuan: “ingat bahwa Allah Mahaperkasa”. Dengan shalat ini, Anda berharap Allah berkenan menjadikan para warga sipil di tempat tersebut perkasa dalam menghadapi kegetiran hidup.

Di dalam shalat ini, tahu-tahu teringatlah Anda pada kata-kata Mihaly Csikzentmihaly (salah seorang pelopor Psikologi Positif) yang pernah Anda baca bahwa tegang itu positif apabila terjadi dalam keadaan yang tepat. “Kegairahan sewaktu tegang merupakan keadaan khusyuk (flow)-saat Anda begitu terlibat, sehingga hal lain menjadi tidak penting.”

Dapatkah Anda mengaitkan pikiran tersebut dengan gagasan “Allah Mahaperkasa”?

Saya yakin, sebenarnya kita semua mampu mengaitkan pikiran apa pun dengan tujuan shalat kita. Hanya saja, memang ada kalanya kemampuan ini tidak keluar. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Di antaranya, mungkin Anda kurang berani mengait-ngaitkannya lantaran khawatir, jangan-jangan ini malah menjauhkan Anda dari tujuan shalat Anda. Jika Anda berada dalam keadaan begini, maka tolaklah lamunan atau pikiran yang menyimpang dari tujuan. Silakan Anda menyingkirkan pikiran yang menyimpang tersebut, lalu kembalilah berfokus pada tujuan shalat Anda, yakni ingat bahwa Allah Mahaperkasa.

Akan tetapi, saat menyadari “penyimpangan” tersebut, bisa saja Anda berusaha mengait-ngaitkan. Mula-mula, Anda membayangkan bahwa Umar r.a. mungkin merasa tegang dan bergairah saat merencanakan pengerahan pasukannya sewaktu ia bershalat (sebagaimana termaktub di atas). Anda berpikiran, ketegangannya ini menunjukkan bahwa tingkat kewaspadaannya dalam menghadapi musuh sangat tinggi. Sedangkan kegairahannya mengisyaratkan tingginya semangat jihadnya. Lantaran ketegangan dan sekaligus kegairahan ini, Umar menjadi begitu perkasa. Keperkasaannya terbukti dengan takluknya dua negara adidaya ketika itu, yakni Persia dan Romawi Timur. Padahal, kedua negara ini sudah mapan selama ratusan tahun, sedangkan kekhalifahan Islam yang dipimpin oleh Umar itu baru beberapa tahun berdirinya. Kalau bukan lantaran pertolongan Allah Yang Mahaperkasa, mungkinkah pasukan Umar mampu menaklukkan pasukan negara-negara adidaya tersebut? Ah, ternyata Allah memang Mahaperkasa, jauh lebih perkasa daripada negara-negara adidaya!

Dengan mengait-ngaitkan pikiran-pikiran seperti itu, akhirnya berhasillah Anda mengaitkan pikiran Anda yang semula tampak “menyimpang” (yakni ingatan mengenai kata-kata Csikzentmihaly) dengan tujuan shalat Anda (yaitu ingat bahwa Allah Mahaperkasa).

Sewaktu mengait-ngaitkan pikiran-pikiran tersebut, mungkin pikiran Anda tegang dan bergairah membayangkan betapa perkasanya pasukan Umar ketika itu. Seolah-olah, Anda sedang menyaksikan film action kegemaran Anda dengan teknologi home theatre tercanggih.

Dengan tegangnya dan bergairahnya pikiran Anda dalam shalat ini, apakah Anda tidak khusyuk? Belum tentu! Ini tergantung pada definisi kita.

Banyak orang beranggapan, “Pelaku shalat yang khusyuk adalah yang pikirannya tenang.” Namun, definisi saya:

Khusyuk dalam shalat adalah berfokusnya pikiran pada tujuan shalat.

Dengan definisi ini, pikiran Umar r.a. yang sangat aktif ketika bershalat (sampai merencanakan pengerahan pasukan) masih bisa kita golongkan sebagai khusyuk. Bahkan, entah tenang entah tegang pikiran Anda, shalat Anda pun tergolong khusyuk selama Anda memfokuskan pikiran Anda pada tujuan shalat Anda. Wallahu a’lam.

2.kaitkan pikiran dengan wujud shalat

Pada garis besarnya, wujud shalat ada dua macam: [1] gerakan atau posisi tubuh yang tertib, [2] ucapan bacaan yang tertib. Lamunan atau pikiran yang menyimpang dapat dikaitkan dengan kedua wujud shalat yang tertib ini.

Kaitkan dengan Gerakan atau Posisi Tubuh

Begitu menyadari bahwa pikiran kita telah menjauh dari tujuan shalat, kita dapat mengalihkan perhatian ke gerakan atau posisi tubuh kita. Umpamanya, pikirkanlah: “Sedang dalam keadaan apakah tubuhku? Dapatkah pikiranku yang sedang melantur ini aku kaitkan dengan keadaan tubuhku? Bagaimana pengaitannya?”

Untuk contoh pengaitan ini, marilah kita kembali menggunakan ingatan pada kata-kata Mihaly Csikzentmihaly yang pernah Anda baca bahwa tegang itu positif apabila terjadi dalam keadaan yang tepat. Dari sini, Anda bisa secara bebas mengaitkannya dengan keadaan tubuh Anda, asalkan menjadikan pikiran Anda lebih terarah pada gerakan dan posisi tubuh Anda. Umpamanya:

* Tidak tegangkah otot-otot tubuhku? Positifkah otot-otot yang tegang begini? Waduh, bisa pegal-pegal, nih! Santai aja, ah….
* Tubuh sesama jamaah di depan dan kanan-kiriku tampaknya santai semua. Tubuhku tentu juga bisa rileks. Ngapain tegang segala? Entah santai entah tegang, toh shalatku bisa sama-sama khusyuk! Enakan santai ketimbang tegang, ‘kan?
* Ah, rasa-rasanya, ruas-ruas tulangku belum mapan ke tempatnya. Keadaaan tubuhku belum tepat, nih! Aku betulin dulu, ah….

Dengan mengalihkan perhatian dari pikiran yang menyimpang ke pikiran mengenai gerakan dan posisi tubuh yang tertata seperti itu, pikiran kita menjadi tidak berkeliaran lagi. Tahu-tahu, menjadi tertata jugalah pikiran kita dalam shalat. Praktis, ‘kan?

Kaitkan dengan Ucapan Bacaan

Begitu menyadari bahwa pikiran kita telah menjauh dari tujuan shalat, kita dapat pula mengalihkan perhatian ke ucapan bacaan shalat kita. Umpamanya, pikirkanlah: “Bacaan apa yang sedang kudengarkan? Dapatkah pikiranku yang sedang melantur ini aku kaitkan dengan bacaan ini? Bagaimana pengaitannya?”

Untuk contoh pengaitan ini, ayolah kita juga menggunakan ingatan pada kata-kata Mihaly Csikzentmihaly yang pernah Anda baca: “Kegairahan sewaktu tegang merupakan keadaan khusyuk (flow)—saat Anda begitu terlibat, sehingga hal lain menjadi tidak penting.” Dari sini, Anda pun bisa secara bebas mengaitkannya dengan ucapan bacaan shalat Anda, asalkan menjadikan pikiran Anda lebih terarah pada ucapan bacaan shalat Anda. Umpamanya:

* Baru saja aku mengucap takbir. Sudahkah aku mengucapkannya dengan bergairah? Kayaknya belum. Nanti saat bertakbir lagi, aku mau mengucapkannya secara bergairah, ah….
* Ayat tentang orang yang melalaikan shalat yang sedang dibacakan oleh imam ini (QS 107: 4-6) rasa-rasanya menegangkan. Celaka! Jangan-jangan, dalam pandangan Allah, aku tergolong orang yang melalaikan shalat. Gimana dong?
* Kalau dibanding-bandingkan, ayat Qur’an yang sedang kudengar ini jauh lebih bermakna daripada kata-kata Mihaly itu. Coba deh, aku pikirin dulu apa maknanya bagi kehidupanku sehari-hari.

Dengan mengalihkan perhatian dari pikiran yang menyimpang ke pikiran mengenai ucapan bacaan yang tertata seperti itu, pikiran kita pun menjadi tidak berkeliaran lagi. Tahu-tahu, sebagaimana pada pengaitan dengan gerakan atau posisi tubuh, menjadi tertata jugalah pikiran kita dalam shalat.

Psikologi Shalat

Kualitas shalat seseorang diukur dari tingkat kekhusyu’annya. Shalat dapat disebut sebagai zikir manalakala orang yang shalatnya itu menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan dalam shalatnya. Karena zikir itu sendiri adalah kesadaran.  Lawan dari zikir adalah lalai, oleh karena itu Quran juga mengingatkan orang yang berzikir(shalat) agar jangan lalai, “wala takun min alghafilin”
(Q/7:205).

Shalatnya orang yang lalai pasti tidak efektif karena tidak komunikatif. Hadist riwayat abu Hurairah menyebutkan betapa banyak orang yang shalat tetapi tidak memperoleh apa-apa selain capek dan
lelah. “Kam min qa imin hazzuhu min shalatihi at ta’abu wa an nasobu.” shalat sebagai zikir bukan kata-kata, ruku’ dan sujud tetapi dialog, muhawarah dan munajat seorang Hamba dengan Tuhannya.
Kuncinya dari muhawarah dan munajat adalah kehadiran hati, “hudur al qalb” dalam shalatnya.

Jadi khusyu’ adalah hadirnya hati dalam setiap aktifitas shalat. Makna shalat terletak pada seberapa besar kehadiran hati didalamnya.
Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan enam makna batin yang dapat menyempurnakan makna shalat yaitu (1)Kehadiran hati, (2) Kefahaman, (3)Ta’zim, mengagungkan Allah SWT (4) Segan, haibah (5)
Berharap, roja (6)Malu.

Disamping enam hal yang bersifat maknawi bagi orang awam masih dibutuhkan situasi fisik yang kondusif untuk shalat, agarperhatiannya tidak terpecahsehingga hatinya hadir. Bagi yang sudah kuat konsentrasinya maka lingkungan fisik tidak lagi menjadi stimulus yang mengganggu, apa yang bagi orang awam, sesuatu yang didengar, yang dilihat, justru menarik perhatiannya, lupa kepada Allah SWT yang sedang diajak berbicara. Demikian juga bagi orang banyak problem yang tidak halal, ruang gelap, ruang kosong, menutup
mata dan menutup telinga tidak akan membantu mengkonsentrasikan hatinya kepada Allah SWT, karena dua hal yang bertentangan.

Makna Shalat…

Kata shalat dalam bahasa Arab merupakan sebuah ungkapan yang mempunyai makna dan cita rasa yang sangat tinggi sebagai anugerah Allah yang terbesar bagi umat manusia. Shalat, baik bentuk maupun ucapannya, merupakan pencapaian evolusi tertinggi dari usaha panjang manusia dalam rangka pencarian kesejatian fitrah dirinya. Banyak sudah usaha manusia untuk menyingkap kepada siapa sebenarnya (hakikinya) diri ini harus bersandar, harus bermohon, harus berharap, harus kembali, harus segala-galanya…. Praktek-praktek ibadah dan penyandaran diri penganut agama-agama besar dunia ataupun hanya sekedar kepercayaan seorang petani kecil sederhana dibalik bukit ketidaktahuannya tak lain hanyalah bagian sejarah tak terpisahkan dari usaha panjang pencarian manusia akan ujung penciptaannya. Tapi syukurlah, perjalanan panjang itu sepertinya diakhiri oleh Allah lewat sebuah bentuk penghambaan dan pemujaan yang sangat sederhana, yaitu shalat. Shalat adalah titik akhir perjalanan itu. Karena shalat itu sendiri adalah hasil dan oleh-oleh dari ujung perjalan Rasululllah saat bertemu dan berjumpa dengan Tuhan tatkala beliau di isra’kan dan di-mi’raj-kan oleh Tuhan.

Dalam surat Al Baqarah ayat 45 diatas, Allah secara terus terang dan lugas menyatakan bahwa sabar dan shalat adalah dua sarana tertinggi manusia untuk minta hidayah, minta pertolongan, minta petunjuk kepada-Nya. Disini Allah secara tegas menyatakan bahwa shalat semata-mata hanyalah kebutuhan esensial kita saja. Shalat itu bukanlah sebuah kewajiban manusia untuk menyembah Allah karena ketakutan kita terhadap siksa-Nya. Dengan shalat, kita dibawa kepada kesadaran bahwa pertolongan dan petunjuk dari “selain Allah” (baca ciptaan-Nya) dalam bentuk apapun menjadi sangat kecil dan tidak berarti apa-apa. Bagaimana bisa ciptaan-Nya tersebut memberikan pertolongan kepada kita, bahkan untuk menolong diri mereka sendiri mereka tidak mampu.

Akan tetapi, ada apa gerangan hambatan-hambatan dalam shalat itu, sehingga Allah dari awal sudah menyampaikan peringatan dini-Nya, “hati-hati kalian wahai manusia, karena shalat itu adalah suatu pekerjaan yang sangat sulit (lakabiiratun) untuk dilaksanakan”. Namun sayang sekali bahwa sangat sedikit kita yang peduli dengan peringatan dini Allah ini. Karena memang kalau dilihat sepintas lalu, apa susahnya sih shalat itu. Bentuk gerakan-gerakannya, seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk sudah jelas. Baca-bacaannya tinggal dihapal dan dibaca, baik dengan dimengerti artinya atau tidak. Oleh sebab itu sebagian besar kita dengan gampang mengabaikan saja peringatan dini Allah itu, kecuali bagi orang-orang sadar dan sensitif.

Orang yang sentitif akan selalu bertanya-tanya, saat shalatnya tidak membuahkan hasil yang diharapkan seperti yang dijelaskan di dalam Al Qur’an. Saat mana dia tidak merasakan bahagia, tidak fresh, tidak tenang sehabis melaksanakan shalat, walaupun shalatnya sudah berulang-ulang kali, maka saat itu akan muncul pertanyaan-pertanyaan dan penyesalan di relung hatinya. Kenapa realitas shalat berbeda antara harapan dengan kenyataan..??. Ada apa gerangan yang salah dalam shalat saya…??. Anasir apa yang menyebabkan tidak benarnya shalat saya ini…??. Lalu sampai kemana pun orang-orang ini akan berusaha mencari dan mencari obat agar shalatnya menjadi sebagaimana mestinya.

Kenapa sih kita sholat?

Coba sekarang kita lihat yang point 4 saja :

Sholat adalah sarana meminta tolong dan berdoa kpd Allah (QS.40:60)

“Tuhan kamu (Allah) berfirman “Berdoalah kepadaku, niscaya aku perkenankan bagimu”. Sesungguhnya orang-orang yang takabur dari menyembah-Ku, mereka akan masuk jahannam dalam keadaan terhina.

Kalo kita ngga’ sholat berarti ada unsur SOMBONG kan dalam diri kita.. Wah wis hebat ta’ kok berani2nya sombong..? Apalagi kepada Allah sing maring’i urip? Berarti klo ga sholat berarti kita ga’ butuh pertolongan Allah, gitu kan makna yg terkadung di ayat tersebut. Lha wis kendel ta…  untuk berkata demikian..? Kan tentun’e mboten toh…?

Kita masih perlu dan perlu.. banget bantuan pertolongan dari Allah, apalagi doa.. otomatis sik perlu sanget.. Ya kan? Memang ibadah sholat dan ibadah2 lainnya tidak memeberikan hasil yang nyata di dunia ini, abis sholat trus proyek lancar, kaya abis ngadep boss. Tapi amalan dan ibadah ini yang nantinya menemani jalan ruh kita di alam kubur, pada saat yang fana ini sudah kita tinggalkan.

Memang kalau kita makna’i dulu kenapa kita kudu sholat..mungkin dari situ akan muncul kesadaran untuk beribadah bukan beribadah karena takut alasan’e…

Jika Salat, Maka Apa?

Melalui shalat, Anda ingin lepas dari jerat persoalan berat? Bagus. Ingin bangkit menuju kesuksesan baru di berbagai bidang? Bagus sekali. Masalahnya, shalat yang bagaimanakah yang menjadi penolong kita?
Tak sedikit di antara kita yang rajin melakukan shalat, dan selalu berdoa memohon rezeki di dalamnya, tapi taraf kehidupan kita tidak mengalami peningkatan. Mengapa?

Dari sudut pandang ilahiah, itu mungkin karena Allah masih menahan rahmat-Nya dan Dia akan memberikannya di waktu lain yang lebih tepat. Namun dari sudut pandang insaniah, patutlah kita waspada, jangan-jangan itu karena cara shalat kita selama ini kurang cerdas!

Tanda-tanda orang yang mengerjakan shalat secara kurang cerdas antara lain:

  1. Enggan belajar lagi ilmu-ilmu tentang shalat, merasa sudah cukup karena telah hafal ucapan dan gerakan shalat;
  2. Melaksanakannya secara asal-asalan, tidak peduli akan adanya cara shalat yang efektif;
  3. Bershalat karena pengaruh kebiasaan atau tradisi, tidak ada peningkatan kualitas shalat dari waktu ke waktu.

Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah
Pada suatu masa, siang dan malam, rasa rinduku kepada “seorang bidadari yang tiada duanya” begitu memuncak. Berlinanglah air mataku tanpa dapat kutahan. Apalah dayaku?

Aku tak berkutik. Tiada yang bisa kulakukan selain berserah diri kepada Tuhan. Dan cara berserah diri kepada-Nya yang paling afdol mungkin adalah shalat secara khusyuk.

Masalahnya, hatiku sedang porak-poranda. Tubuhku lemas. Loyo. Bagaimana mungkin aku bisa bershalat secara khusyuk, sedangkan bangkit dari ranjang pun terasa berat sekali?

Ah, pikirku, biar sajalah! Biar saja terasa berat. Biar saja tak mampu bershalat secara khusyuk. Aku serahkan segala yang ada dalam diriku kepada Tuhan. Ya, segalanya kuserahkan, termasuk ketidak-mampuanku untuk bershalat secara khusyuk.
“Bidadariku” Milik Siapa?

Hidup-matiku bukan milikku. Hidup-matiku milik Tuhan Yang Mengatur alam beserta segenap isinya, termasuk diriku!

Ya ampuuun…. Betapa naifnya diriku. Lihat! Hidup-matiku saja bukan milikku. Ngapain aku merasa seolah-olah si dia milikku sepenuhnya?

“Ya Allah! Betapa kumuhnya hatiku! Milik-Mu itu selama ini telah kuaku-aku sebagai milikku. Sungguh aku tak tahu diri. Kini, dengan shalatku ini, kukembalikan dia kepada-Mu. Ya Allah! Terimalah pengembalianku ini. Dan sucikanlah kembali kalbuku.”

Ihdinash shiraathal mustaqiim. Tunjukilah kami jalan orang-orang yang lurus.

“Ya Allah! Engkau Mahatahu. Kau tahu isi hatiku. Kau tahu bidadari mana yang aku hasrati bila Kau berkenan memasukkan aku ke taman surga-Mu. Memang, akal sehatku senantiasa mengingatkan aku bahwa dia milik-Mu. Akan tetapi, hati kecilku berbisik, dia terlalu indah untuk kulepaskan. Haruskah aku lupakan dia? Manakah jalan yang happy ending bagi semuanya (bagi Engkau, bagi kami, bagi keluarga kami, bagi masyarakat kami, ….)?”
Menguras Lubuk Hati

Saat rukuk, kuadukan kembali gejolak jiwaku.

“Ya Allah! Kenikmatan insani, yang pernah Kau pinjamkan kepadaku melalui kedekatan kami berdua, selalu membayangi hari-hariku dan malam-malamku. Tawanya yang renyah, budi-pekertinya yang santun, olah-katanya yang menawan, suaranya yang merdu, senyumnya yang aduhai, parasnya yang cemerlang, cintanya yang begitu tulus kepadaku…. Semuanya begitu indah, bukan? Ya Tuhan! Sungguh aku penasaran.”

Diiringi rasa penasaran dan mata yang berkaca-kaca, aku berdiri kembali (i’tidal). Aku diam sebentar. Kubiarkan diri tidak lekas-lekas sujud. Kuberi kesempatan agar rasa penasaran dan berbagai emosi yang menggumpal di kepala itu menguap melalui seluruh pori-pori.

Bagaimana tidak menguap? Tadi, sewaktu berdiri, si dia kukembalikan kepada pemiliknya yang sejati. Kini, sewaktu berdiri lagi, si dia kukembalikan lagi. Pengembalian-ulang ini lebih mendalam karena dipicu oleh rasa penasaran yang begitu mendalam. Akibatnya, bergetarlah lubuk hati. Darinya, mengalirlah getaran-getaran ke seluruh tubuh yang lepaskan berbagai perasaan.

Getaran itu mengalir terus dan semakin kencang. Air mata turun membasahi pipi. Pandangan mata menjadi buram dan semakin buram. Bila kubiarkan begini, bisa-bisa kesadaranku menghilang. Bila kubiarkan begitu, bisa-bisa bisikan dari jin kusangka ilham dari Tuhan. Sekarang, sudah saatnya aku bertekuk-lutut di hadapan Tuhan.

Dengan bertekuk-lutut, aku bersujud. Kembali aku serahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kali ini lebih total.

Dalam keheningan, kutatap kegagalanku dalam membina hubungan cinta dengan si dia. Air mata mengalir.

Dalam keheningan, kuakui betapa pedihnya putus hubungan dengannya. Air mata mengalir lagi dan terus mengalir.

Dalam keheningan, kukuras lubuk hati sedalam-dalamnya. Air mata membanjiri sajadah.

Pada mulanya, memang air mata duka yang aku kucurkan. Sementara pengurasan lubuk hati terus kuperdalam, jiwaku menjadi kering-kerontang. Tiada isinya selain penderitaan. Namun, ketika lubuk hatiku yang paling dalam sudah tersentuh oleh kesadaran-kesadaran baru, saat itulah air mata bahagia mulai berhamburan. (Kesadaran baru itu antara lain: “Jika aku bersabar menerima taqdir dan menyambut Hari Akhir, maka tentu Allah akan jadikan dia bidadariku kelak di surga, untuk selama-lamanya.”)

Puncaknya, dalam keheningan telaga air mata bahagia, tumbuhlah semangatku untuk bangkit dari sujud dan bangkit dari keterpurukan.
Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah

Saat duduk di antara dua sujud, kumanfaatkan kesempatan ini untuk rehat sejenak di tengah-tengah pengurasan lubuk hati. Kupantau lubuk hati, kalau-kalau ada kebocoran di sana sini. Begitu melihat kebocoran, segera kuadukan hal ini kepada Tuhan.

“Ya Allah! Ampunilah aku. Betapapun kotornya hatiku, Engkau Maha Mensucikan.Ya Allah! Sayangilah aku. Betapapun besarnya hasratku untuk memperoleh cintanya, kasih-sayang-Mu lebih aku butuhkan…Ya Allah! Sehatkanlah aku. Betapapun pedihnya luka jiwaku, Engkau Maha Menyembuhkan. …”

Saat duduk akhir, kucondongkan jiwaku ke arah keseimbangan baru. Aku pun bersaksi bahwa meskipun si dia begitu indah, dia bukanlah Sang Mahaindah. Kurasa, dia itu hamba Allah yang dikirim oleh Sang Mahaindah untuk meneteskan secercah keindahan dari-Nya ke lubuk hatiku. Mungkin maksud-Nya supaya aku menjadi manusia baru, yang lebih elok daripada yang sudah-sudah.

Sebelum salam penutup shalat, aku bermunajat:

“Ya Allah! Seandainya mengingat-ingat si dia menjauhkan aku dari kebaikan, lenyapkanlah dari benakku segala kenangan tentang dia, betapapun manisnya. Namun, seandainya mengingat-ingat si dia mendekatkan aku dengan kebaikan, peliharalah di benakku segala kenangan tentang dia, betapapun pahitnya.”

Seusai munajat ini, aku merasa plong. Aku merasa kembali bahagia. Mungkin, lebih bahagia daripada yang sudah-sudah. Mungkin pula, lebih bahagia daripada yang belum-belum.
Buahnya Bukan Hanya Rasa Manis

Sekarang, aku masih senantiasa ingat kepada si dia. (Padahal, kini dia semakin jauh dari jangkauanku. Kini dia sudah bersuami, aku pun telah beristri.) Terasa pahit? Tidak sama sekali. Sebaliknyalah yang justru kurasakan. Rasa manisnya sulit kulukiskan dengan kata-kata.

Bahkan, buahnya bukan hanya rasa manis. Dalam karirku, she is my inspiration. Andai tak pernah ada rasa cinta di antara kami berdua, mungkin aku takkan menjadi penulis.***

Apakah shalat yang khusyuk dapat ujudkan impian-impian kita? Belum tentu. Pengaruh kekhusyukan itu cenderung berlaku terhadap segi-segi spiritual belaka, sedangkan impian kita ada kalanya bersifat material. Shalat yang mampu ujudkan impian-impian kita adalah shalat yang smart atau cerdas. (Shalat yang khusyuk adalah bagian dari shalat yang cerdas.)

Impian yang mana? Segala impian yang realistis, bukan angan-angan hampa. Untuk contoh di sini, impian mendapatkan pekerjaan yang mapan seperti pada diri Iwan.
Siagakan Pelaku Shalat

Dalam evaluasinya, Iwan memperhatikan bahwa dirinya telah menjadi pribadi yang kurang gaul. Sampai sebelum terkena PHK, waktunya habis untuk bekerja di kantor dan beristirahat di rumah. Tahun demi tahun berlalu, tanpa terasa, Iwan menjadi semakin jauh dari para kerabat, relasi, dan teman-temannya.

Berdasarkan evaluasi tersebut, saya sarankan Iwan mendirikan shalat yang melejitkan kecerdasan sosial dan sekaligus bertujuan mengingat bahwa Allah itu Maha “Pemberi” Rezeki. Langkah awalnya:

  1. Menanyai ustadz: Apa makna “Maha ‘Pemberi’ Rezeki”?
  2. Mencari tahu: Manakah masjid atau mushalla “terdekat” (terjangkau) yang jamaahnya memiliki perusahaan atau bekerja di perusahaan yang membutuhkan kelihaian Iwan?
  3. Mantapkan Wujud Shalat

Melalui shalat jamaah, Eksa dapat menunjukkan kemauan dan kemampuannya dalam bekerja sama dengan orang lain sebaik-baiknya. Agar wujud shalat jamaahnya itu mantap dalam melejitkan kecerdasan sosialnya, Iwan perlu menerapkan kiat-kiat jitu, antara lain:

¨     Ketika Anda memasuki atau keluar dari masjid atau mushalla, jangan menginjak-injak alas kaki orang lain. Kalau terpaksa menginjak-injak, lepaskan dulu alas kaki Anda dan bersihkan dulu telapak kaki Anda.

¨     Ketika berdiri membentuk shaf (barisan) shalat jamaah, jangan melanggar batas shaf yang ditentukan oleh pengurus masjid/mushalla.

¨     Bila menjadi imam, perhatikanlah keadaan makmum. Bila diantara mereka terdapat orang yang berfisik lemah atau tampaknya sedang berada dalam keadaan terburu-buru, maka jangan memperlama shalat.
Arungi Makna Shalat

Wujud shalat yang mantap, tidak asal-asalan, memungkinkan kita untuk lebih memaknai shalat kita. Bagaimanapun, ucapan dan gerakan kita dalam shalat bukanlah aktivitas hampa yang tak bermakna. Tinggal kita sendiri, mau memaknainya secara rinci ataukah tidak. Caranya, umpamanya:

¨     Ketika mandi dan berwudhu, renungkan perbedaan sikap para jamaah antara terhadap sesama jamaah yang bershalat dalam keadaan bersih dan terhadap sesama jamaah yang bershalat dalam keadaan kotor;

¨     Ketika merasakan bahwa Anda sedang menghadap Kakbah, pikirkan makna “bersama-sama menghadap satu qiblat yang sama”;

¨     Seusai bertakbir, renungkan hubungan antara kebesaran Allah dalam ‘memberi’ rezeki dan besarnya rezeki yang didapatkan oleh orang-orang yang tingkat kecerdasan sosialnya tinggi.
Rengkuh Jiwa Shalat

Supaya makna-makna shalat yang kita arungi itu lebih efektif, kita perlu menghayatinya. Saat inilah kehadiran hati mengambil peran. Umpamanya:

¨     Rasakanlah betapa nikmatnya menggunakan rezeki yang berupa busana yang sedang Anda pakai untuk bershalat; bayangkanlah bagaimana jika Anda tidak menutup aurat, sehingga tidak bisa bershalat, apalagi secara berjamaah;

¨     Hayatilah bagaimana Allah ‘memberi’ berbagai rezeki dengan cara yang berlainan kepada orang-orang yang berjamaah bersama Anda;

¨     Hayatilah betapa orang-orang lain yang berjamaah bersama Anda pun membutuhkan rezeki, yang perantaranya mungkin adalah kelihaian Anda dalam bekerja untuk/bersama mereka.
Tebarkan Hikmah Shalat

Dari empat “langkah besar” terdahulu (Siagakan pelaku shalat, Mantapkan wujud shalat, Arungi makna shalat, Rengkuh jiwa shalat), melejitlah kecerdasan kita. Hanya saja, kecerdasan ini sia-sia belaka bila kita tidak menerapkannya.

Supaya kecerdasan itu lebih melekat pada diri Anda dan benar-benar menjadikan shalat sebagai penolong Anda, maka Anda perlu menerapkannya sesegera mungkin, seluas mungkin, dan sesering mungkin.

Contohnya:

¨     Dengan menyadari bahwa Allah ‘memberi’ rezeki yang cenderung besar kepada orang-orang yang luas pergaulannya, luaskanlah pergaulan Anda di luar shalat;

¨     Dengan memperhatikan bahwa tujuan shalat Anda adalah mengingat bahwa Allah itu Maha ‘Pemberi’ Rezeki, sering-seringlah menunjukkan kepada Allah di luar shalat bahwa Anda sungguh-sungguh mengharapkan rezeki-Nya, yaitu dengan mengusahakan berbagai ikhtiar secerdas-cerdasnya.

Dengan menjalankan saran-saran semacam itu, insya’Allah terwujudlah impian Anda (pada saat yang tepat).

Baca dengan Keras untuk Dakwah, Efektifkah?

Saat membaca Al-Qur’an dalam shalat tahajud, apakah Anda membacanya dengan suara keras (supaya orang-orang terbangun dan bershalat tahajud)? Mari kita belajar dari kasus berikut.

Pada suatu malam, Rasulullah keluar rumah dan beliau mendapati Umar bershalat lail dengan suara yang keras.

Ketika ia bertemu Nabi saw., beliau bersabda, “Wahai Umar! Aku telah lewat di depan rumahmu ketika engkau bershalat lail dengan suara yang keras.”

Jawab Umar, “Wahai Rasulullah! Aku [bermaksud] membangunkan orang yang terlelap dan mengusir syetan.”

Lantas, beliau bersabda: “Wahai Umar! Lirihkan sedikit suaramu!”

Nah! Mengapa beliau bersabda begitu? Ada hikmah apa di balik perintah beliau itu?

Rupanya, perintah beliau tersebut berkenaan dengan efektivitas bacaan shalat sebagai media dakwah. Kita tahu, orang-orang yang terbangun dari tidurnya lantaran kerasnya bacaan shalat yang diucapkan itu belum tentu tergerak untuk bershalat pula. Bisa saja mereka justru berkeluh-kesah lantaran merasa terganggu. Namun, dengan menurunkan volume suara bacaan Al-Qur’annya hingga terdengar nyaman di telinga orang-orang lain sesuai dengan akseptabilitas (daya terima) para pendengar, dakwahnya akan mendapat simpati di hati orang-orang. Pada akhirnya, mereka pun menyambut hangat segala macam dakwahnya. Pucuk dicinta, ulam tiba. Efektif, ‘kan?

Kemudian, apakah setelah menyetel volume suaranya dalam bershalat, sehingga suaranya menjadi tidak terlalu keras, Umar memperoleh “ulam” (yakni hasil yang melebihi harapan)? Misalnya, apakah akhirnya segala macam dakwahnya benar-benar disambut hangat oleh orang-orang pada umumnya? Kita bisa menduganya dari gejala yang mengisyaratkan hal tersebut, yaitu besarnya jumlah orang yang memeluk Islam berkat dakwahnya.

Pada mulanya, di masa tahun-tahun pertama memeluk Islam, dakwah Umar kepada orang-orang non-Islam sama sekali belum efektif. Dakwahnya kepada mereka yang non-muslim ketika itu lebih banyak menuai antipati daripada simpati. Namun akhirnya, sampai saat ini, tiada seorang pun yang mengungguli prestasinya dalam mengislamkan orang-orang non-muslim.

Berapa jumlah mereka? Tidak diketahui. Namun, angkanya pasti luar biasa karena meliputi kawasan yang membentang dari Afrika Utara sampai Asia Tengah dan dari Persia sampai timur Mediterania. Hanya dalam waktu beberapa puluh tahun, mayoritas penduduk di kawasan-kawasan tersebut beralih agama ke dalam Islam. Mereka berbondong-bondong memeluk Islam itu terutama lantaran terpikat oleh kebijakan toleransi beragama yang dicanangkan oleh Khalifah Umar. (Lihat laporan Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam.)

Nah! Bagaimana mungkin kemampuan dakwah Umar ini bisa melejit dengan sedemikian hebat kalau bukan dari pengucapan bacaan-bacaan secara tidak terlalu vokal di dalam shalatnya sehari-hari?

(Catatan: Khalifah Umar pernah mengunjungi Gereja Resurrection di Jerusalem. Ketika bertepatan dengan  waktu shalat, sang Pater (pendeta yang mengepalai gereja tersebut) mempersilakan Khalifah untuk menunaikan shalat di tempat itu. Seandainya Umar masih biasa bershalat secara terlalu vokal seperti yang diceritakan dalam hadits di atas, tentu dia takkan ditawari kesempatan bershalat di gereja!)

Begitulah buah manis dari memperhatikan akseptabilitas (daya terima) pendengar, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Mungkin lantaran itu pula, Nabi saw. membaca al-Fatihah dan surah lain dengan suara yang cukup keras dalam shalat Shubuh, Maghrib, dan ‘Isya. Itu pun hanya pada dua reka’at pertama. Dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar, reka’at terakhir shalat Maghrib, dan dua reka’at terakhir shalat ‘Isya, beliau membacanya dengan suara lirih (yang hanya bisa disimak diri sendiri).

Perhatikan! Pada waktu Shubuh, Maghrib, dan ‘Isya, orang-orang dapat mendengarkan suara dengan lebih jernih daripada Zhuhur dan ‘Ashar. Adapun pembatasan pada dua reka’at pertama mungkin mengantisipasi melemahnya daya tangkap indera pendengaran makmum pada umumnya ketika mulai menginjak reka’at ketiga (kecuali pada shalat tahajud atau tarawih dan witir).

Dengan demikian, metode shalat Nabi benar-benar memperhatikan akseptabilitas pendengar. Walhasil, pembacaan Al-Qur’an di dalam shalat pun menjadi lebih efektif sebagai metode dakwah.