Jika Salat, Maka Apa?

Melalui shalat, Anda ingin lepas dari jerat persoalan berat? Bagus. Ingin bangkit menuju kesuksesan baru di berbagai bidang? Bagus sekali. Masalahnya, shalat yang bagaimanakah yang menjadi penolong kita?
Tak sedikit di antara kita yang rajin melakukan shalat, dan selalu berdoa memohon rezeki di dalamnya, tapi taraf kehidupan kita tidak mengalami peningkatan. Mengapa?

Dari sudut pandang ilahiah, itu mungkin karena Allah masih menahan rahmat-Nya dan Dia akan memberikannya di waktu lain yang lebih tepat. Namun dari sudut pandang insaniah, patutlah kita waspada, jangan-jangan itu karena cara shalat kita selama ini kurang cerdas!

Tanda-tanda orang yang mengerjakan shalat secara kurang cerdas antara lain:

  1. Enggan belajar lagi ilmu-ilmu tentang shalat, merasa sudah cukup karena telah hafal ucapan dan gerakan shalat;
  2. Melaksanakannya secara asal-asalan, tidak peduli akan adanya cara shalat yang efektif;
  3. Bershalat karena pengaruh kebiasaan atau tradisi, tidak ada peningkatan kualitas shalat dari waktu ke waktu.

Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah
Pada suatu masa, siang dan malam, rasa rinduku kepada “seorang bidadari yang tiada duanya” begitu memuncak. Berlinanglah air mataku tanpa dapat kutahan. Apalah dayaku?

Aku tak berkutik. Tiada yang bisa kulakukan selain berserah diri kepada Tuhan. Dan cara berserah diri kepada-Nya yang paling afdol mungkin adalah shalat secara khusyuk.

Masalahnya, hatiku sedang porak-poranda. Tubuhku lemas. Loyo. Bagaimana mungkin aku bisa bershalat secara khusyuk, sedangkan bangkit dari ranjang pun terasa berat sekali?

Ah, pikirku, biar sajalah! Biar saja terasa berat. Biar saja tak mampu bershalat secara khusyuk. Aku serahkan segala yang ada dalam diriku kepada Tuhan. Ya, segalanya kuserahkan, termasuk ketidak-mampuanku untuk bershalat secara khusyuk.
“Bidadariku” Milik Siapa?

Hidup-matiku bukan milikku. Hidup-matiku milik Tuhan Yang Mengatur alam beserta segenap isinya, termasuk diriku!

Ya ampuuun…. Betapa naifnya diriku. Lihat! Hidup-matiku saja bukan milikku. Ngapain aku merasa seolah-olah si dia milikku sepenuhnya?

“Ya Allah! Betapa kumuhnya hatiku! Milik-Mu itu selama ini telah kuaku-aku sebagai milikku. Sungguh aku tak tahu diri. Kini, dengan shalatku ini, kukembalikan dia kepada-Mu. Ya Allah! Terimalah pengembalianku ini. Dan sucikanlah kembali kalbuku.”

Ihdinash shiraathal mustaqiim. Tunjukilah kami jalan orang-orang yang lurus.

“Ya Allah! Engkau Mahatahu. Kau tahu isi hatiku. Kau tahu bidadari mana yang aku hasrati bila Kau berkenan memasukkan aku ke taman surga-Mu. Memang, akal sehatku senantiasa mengingatkan aku bahwa dia milik-Mu. Akan tetapi, hati kecilku berbisik, dia terlalu indah untuk kulepaskan. Haruskah aku lupakan dia? Manakah jalan yang happy ending bagi semuanya (bagi Engkau, bagi kami, bagi keluarga kami, bagi masyarakat kami, ….)?”
Menguras Lubuk Hati

Saat rukuk, kuadukan kembali gejolak jiwaku.

“Ya Allah! Kenikmatan insani, yang pernah Kau pinjamkan kepadaku melalui kedekatan kami berdua, selalu membayangi hari-hariku dan malam-malamku. Tawanya yang renyah, budi-pekertinya yang santun, olah-katanya yang menawan, suaranya yang merdu, senyumnya yang aduhai, parasnya yang cemerlang, cintanya yang begitu tulus kepadaku…. Semuanya begitu indah, bukan? Ya Tuhan! Sungguh aku penasaran.”

Diiringi rasa penasaran dan mata yang berkaca-kaca, aku berdiri kembali (i’tidal). Aku diam sebentar. Kubiarkan diri tidak lekas-lekas sujud. Kuberi kesempatan agar rasa penasaran dan berbagai emosi yang menggumpal di kepala itu menguap melalui seluruh pori-pori.

Bagaimana tidak menguap? Tadi, sewaktu berdiri, si dia kukembalikan kepada pemiliknya yang sejati. Kini, sewaktu berdiri lagi, si dia kukembalikan lagi. Pengembalian-ulang ini lebih mendalam karena dipicu oleh rasa penasaran yang begitu mendalam. Akibatnya, bergetarlah lubuk hati. Darinya, mengalirlah getaran-getaran ke seluruh tubuh yang lepaskan berbagai perasaan.

Getaran itu mengalir terus dan semakin kencang. Air mata turun membasahi pipi. Pandangan mata menjadi buram dan semakin buram. Bila kubiarkan begini, bisa-bisa kesadaranku menghilang. Bila kubiarkan begitu, bisa-bisa bisikan dari jin kusangka ilham dari Tuhan. Sekarang, sudah saatnya aku bertekuk-lutut di hadapan Tuhan.

Dengan bertekuk-lutut, aku bersujud. Kembali aku serahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kali ini lebih total.

Dalam keheningan, kutatap kegagalanku dalam membina hubungan cinta dengan si dia. Air mata mengalir.

Dalam keheningan, kuakui betapa pedihnya putus hubungan dengannya. Air mata mengalir lagi dan terus mengalir.

Dalam keheningan, kukuras lubuk hati sedalam-dalamnya. Air mata membanjiri sajadah.

Pada mulanya, memang air mata duka yang aku kucurkan. Sementara pengurasan lubuk hati terus kuperdalam, jiwaku menjadi kering-kerontang. Tiada isinya selain penderitaan. Namun, ketika lubuk hatiku yang paling dalam sudah tersentuh oleh kesadaran-kesadaran baru, saat itulah air mata bahagia mulai berhamburan. (Kesadaran baru itu antara lain: “Jika aku bersabar menerima taqdir dan menyambut Hari Akhir, maka tentu Allah akan jadikan dia bidadariku kelak di surga, untuk selama-lamanya.”)

Puncaknya, dalam keheningan telaga air mata bahagia, tumbuhlah semangatku untuk bangkit dari sujud dan bangkit dari keterpurukan.
Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah

Saat duduk di antara dua sujud, kumanfaatkan kesempatan ini untuk rehat sejenak di tengah-tengah pengurasan lubuk hati. Kupantau lubuk hati, kalau-kalau ada kebocoran di sana sini. Begitu melihat kebocoran, segera kuadukan hal ini kepada Tuhan.

“Ya Allah! Ampunilah aku. Betapapun kotornya hatiku, Engkau Maha Mensucikan.Ya Allah! Sayangilah aku. Betapapun besarnya hasratku untuk memperoleh cintanya, kasih-sayang-Mu lebih aku butuhkan…Ya Allah! Sehatkanlah aku. Betapapun pedihnya luka jiwaku, Engkau Maha Menyembuhkan. …”

Saat duduk akhir, kucondongkan jiwaku ke arah keseimbangan baru. Aku pun bersaksi bahwa meskipun si dia begitu indah, dia bukanlah Sang Mahaindah. Kurasa, dia itu hamba Allah yang dikirim oleh Sang Mahaindah untuk meneteskan secercah keindahan dari-Nya ke lubuk hatiku. Mungkin maksud-Nya supaya aku menjadi manusia baru, yang lebih elok daripada yang sudah-sudah.

Sebelum salam penutup shalat, aku bermunajat:

“Ya Allah! Seandainya mengingat-ingat si dia menjauhkan aku dari kebaikan, lenyapkanlah dari benakku segala kenangan tentang dia, betapapun manisnya. Namun, seandainya mengingat-ingat si dia mendekatkan aku dengan kebaikan, peliharalah di benakku segala kenangan tentang dia, betapapun pahitnya.”

Seusai munajat ini, aku merasa plong. Aku merasa kembali bahagia. Mungkin, lebih bahagia daripada yang sudah-sudah. Mungkin pula, lebih bahagia daripada yang belum-belum.
Buahnya Bukan Hanya Rasa Manis

Sekarang, aku masih senantiasa ingat kepada si dia. (Padahal, kini dia semakin jauh dari jangkauanku. Kini dia sudah bersuami, aku pun telah beristri.) Terasa pahit? Tidak sama sekali. Sebaliknyalah yang justru kurasakan. Rasa manisnya sulit kulukiskan dengan kata-kata.

Bahkan, buahnya bukan hanya rasa manis. Dalam karirku, she is my inspiration. Andai tak pernah ada rasa cinta di antara kami berdua, mungkin aku takkan menjadi penulis.***

Apakah shalat yang khusyuk dapat ujudkan impian-impian kita? Belum tentu. Pengaruh kekhusyukan itu cenderung berlaku terhadap segi-segi spiritual belaka, sedangkan impian kita ada kalanya bersifat material. Shalat yang mampu ujudkan impian-impian kita adalah shalat yang smart atau cerdas. (Shalat yang khusyuk adalah bagian dari shalat yang cerdas.)

Impian yang mana? Segala impian yang realistis, bukan angan-angan hampa. Untuk contoh di sini, impian mendapatkan pekerjaan yang mapan seperti pada diri Iwan.
Siagakan Pelaku Shalat

Dalam evaluasinya, Iwan memperhatikan bahwa dirinya telah menjadi pribadi yang kurang gaul. Sampai sebelum terkena PHK, waktunya habis untuk bekerja di kantor dan beristirahat di rumah. Tahun demi tahun berlalu, tanpa terasa, Iwan menjadi semakin jauh dari para kerabat, relasi, dan teman-temannya.

Berdasarkan evaluasi tersebut, saya sarankan Iwan mendirikan shalat yang melejitkan kecerdasan sosial dan sekaligus bertujuan mengingat bahwa Allah itu Maha “Pemberi” Rezeki. Langkah awalnya:

  1. Menanyai ustadz: Apa makna “Maha ‘Pemberi’ Rezeki”?
  2. Mencari tahu: Manakah masjid atau mushalla “terdekat” (terjangkau) yang jamaahnya memiliki perusahaan atau bekerja di perusahaan yang membutuhkan kelihaian Iwan?
  3. Mantapkan Wujud Shalat

Melalui shalat jamaah, Eksa dapat menunjukkan kemauan dan kemampuannya dalam bekerja sama dengan orang lain sebaik-baiknya. Agar wujud shalat jamaahnya itu mantap dalam melejitkan kecerdasan sosialnya, Iwan perlu menerapkan kiat-kiat jitu, antara lain:

¨     Ketika Anda memasuki atau keluar dari masjid atau mushalla, jangan menginjak-injak alas kaki orang lain. Kalau terpaksa menginjak-injak, lepaskan dulu alas kaki Anda dan bersihkan dulu telapak kaki Anda.

¨     Ketika berdiri membentuk shaf (barisan) shalat jamaah, jangan melanggar batas shaf yang ditentukan oleh pengurus masjid/mushalla.

¨     Bila menjadi imam, perhatikanlah keadaan makmum. Bila diantara mereka terdapat orang yang berfisik lemah atau tampaknya sedang berada dalam keadaan terburu-buru, maka jangan memperlama shalat.
Arungi Makna Shalat

Wujud shalat yang mantap, tidak asal-asalan, memungkinkan kita untuk lebih memaknai shalat kita. Bagaimanapun, ucapan dan gerakan kita dalam shalat bukanlah aktivitas hampa yang tak bermakna. Tinggal kita sendiri, mau memaknainya secara rinci ataukah tidak. Caranya, umpamanya:

¨     Ketika mandi dan berwudhu, renungkan perbedaan sikap para jamaah antara terhadap sesama jamaah yang bershalat dalam keadaan bersih dan terhadap sesama jamaah yang bershalat dalam keadaan kotor;

¨     Ketika merasakan bahwa Anda sedang menghadap Kakbah, pikirkan makna “bersama-sama menghadap satu qiblat yang sama”;

¨     Seusai bertakbir, renungkan hubungan antara kebesaran Allah dalam ‘memberi’ rezeki dan besarnya rezeki yang didapatkan oleh orang-orang yang tingkat kecerdasan sosialnya tinggi.
Rengkuh Jiwa Shalat

Supaya makna-makna shalat yang kita arungi itu lebih efektif, kita perlu menghayatinya. Saat inilah kehadiran hati mengambil peran. Umpamanya:

¨     Rasakanlah betapa nikmatnya menggunakan rezeki yang berupa busana yang sedang Anda pakai untuk bershalat; bayangkanlah bagaimana jika Anda tidak menutup aurat, sehingga tidak bisa bershalat, apalagi secara berjamaah;

¨     Hayatilah bagaimana Allah ‘memberi’ berbagai rezeki dengan cara yang berlainan kepada orang-orang yang berjamaah bersama Anda;

¨     Hayatilah betapa orang-orang lain yang berjamaah bersama Anda pun membutuhkan rezeki, yang perantaranya mungkin adalah kelihaian Anda dalam bekerja untuk/bersama mereka.
Tebarkan Hikmah Shalat

Dari empat “langkah besar” terdahulu (Siagakan pelaku shalat, Mantapkan wujud shalat, Arungi makna shalat, Rengkuh jiwa shalat), melejitlah kecerdasan kita. Hanya saja, kecerdasan ini sia-sia belaka bila kita tidak menerapkannya.

Supaya kecerdasan itu lebih melekat pada diri Anda dan benar-benar menjadikan shalat sebagai penolong Anda, maka Anda perlu menerapkannya sesegera mungkin, seluas mungkin, dan sesering mungkin.

Contohnya:

¨     Dengan menyadari bahwa Allah ‘memberi’ rezeki yang cenderung besar kepada orang-orang yang luas pergaulannya, luaskanlah pergaulan Anda di luar shalat;

¨     Dengan memperhatikan bahwa tujuan shalat Anda adalah mengingat bahwa Allah itu Maha ‘Pemberi’ Rezeki, sering-seringlah menunjukkan kepada Allah di luar shalat bahwa Anda sungguh-sungguh mengharapkan rezeki-Nya, yaitu dengan mengusahakan berbagai ikhtiar secerdas-cerdasnya.

Dengan menjalankan saran-saran semacam itu, insya’Allah terwujudlah impian Anda (pada saat yang tepat).

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: