Menjaga Nutrisi, Menuai Kecerdasan

Semua orang tua menginginkan anak-anak mereka tumbuh dengan kecerdasan yang tinggi. Kalau bisa sejenius Albert Einstein. Persoalannya, untuk membuat anak Anda mempunyai kecerdasan yang normal, Anda tak boleh lengah memberikan asupan gizi demi pertumbuhan dan perkembangan otaknya.

Berbagai penelitian mutakhir menyimpulkan, ada korelasi kuat antara gizi dengan perkembangan otak anak. Bahkan, keterkaitan itu sudah terjalin sejak si bocah masih mendekam di kandungan sebagai janin.

Pertumbuhan otak bayi berlangsung segera setelah pembuahan. Otak manusia mulai terbentuk pada hari ke-8 setelah konsepsi (saat sel sperma membuahi sel telur). Setelah itu, otak tumbuh amat cepat sampai bayi berusia 18 bulan. Pertumbuhan otak ini berlangsung terus hingga bayi lahir. Pada akhir masa kehamilan (bulan ke-7 sampai ke-9) sel-sel otak mulai membutuhkan rangsangan agar dapat berfungsi optimal.

Kalangan kedokteran menyebut masa-masa di atas sebagai periode lompatan pertumbuhan otak atau brain growth spurt, disebut juga “periode emas”. Pada periode ini, neuron (sel-sel saraf) sangat peka dan sangat dipengaruhi situasi lingkungan. Tak pelak, periode ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi meningkatkan kecerdasan anak.

Menyadari kehadiran perode penting itu, Dr. Rudiyanti Sp.OG, spesialis obstetri dan ginekologi dari RS Internasional Bintaro, menyatakan, perkembangan otak bayi mesti dicermati, bahkan ketika sang ibu masih menjalani masa kehamilan. Konkretnya, pada masa krusial tersebut, ibu sangat dianjurkan mengonsumsi makanan kaya gizi yang mencakup makanan tinggi protein, tanpa melupakan unsur lain seperti mineral, fosfor, dan air.

Protein merupakan zat gizi penting yang menjadi struktur dasar semua sel-sel hidup. Protein memiliki struktur molekul kompleks yang terdiri dari banyak asam amino. Namun, tak semua asam amino dapat dibentuk tubuh manusia. Asam amino yang tak dapat dibentuk tubuh harus diperoleh dari makanan sehari-hari dan disebut asam amino esensial.

Ada beragam sumber protein. Biasanya, sumber-sumber itu dibedakan menjadi dua: protein hewani dan nabati. Sumber protein hewani antara lain adalah susu, telur, daging, dan ikan. Sementara, protein nabati berasal dari, misalnya, beras, gandum, dan kacang-kacangan.

Jelas, asupan protein amat vital. Jika kurang, akan terjadi kondisi kekurangan energi protein atau KEP. Jika KEP terjadi pada saat janin berada dalam kandungan, berat otak akan berkurang sampai 13 persen. Berkurangnya berat otak ini disebabkan jumlah sel dan ukuran otak yang berkurang. Defisit perkembangan otak akan sulit terkejar karena masa cepat tumbuh hanya berlangsung sampai usia 18 bulan. Lebih jauh, KEP akan menyebabkan rendahnya nilai IQ, kemampuan mengenali bentuk geometrik, dan kemampuan berkonsentrasi.

Toh, mohon diiingat, protein hanya salah satu unsur yang mempengaruhi perkembangan otak. Selain protein, asam lemak omega 3 merupakan zat gizi yang harus pula terpenuhi kebutuhannya. Asam lemak omega 3 ini merupakan turunan dari prekursor atau pendahulunya, yakni asam lemak esensial linoleat dan alinolenat. Ada tiga ragam asam lemak omega 3: LNA (asam alfa-linolenat), EPA (eikosapentaenoat), serta DHA (dokosaheksaenoat).

Omega 3 berperan vital dalam proses tumbuh kembang sel-sel neuron otak untuk bekal kecerdasan bayi yang dilahirkan. Menurut DR. Dr. Fadilah Supari, Sp.JP, ahli jantung RS Harapan Kita, dalam disertasinya beberapa tahun silam, omega 3 yang banyak terdapat di ikan-ikan laut dalam tak hanya memperkuat daya tahan otot jantung, tetapi juga mampu meningkatkan kecerdasan otak bila diberikan sejak dini.

Yang menjadi masalah, sekali lagi, asam lemak esensial tidak bisa dibentuk dalam tubuh. Karena itu,  harus dipasok langsung dari makanan. Tak ayal, sang ibu yang harus berinisiatif melengkapi menu makanannya dengan kandungan omega 3.

Berdasarkan penelitian Fadilah, ikan lemuru (sardinella longiceph) merupakan ikan yang paling banyak mengandung omega-3. Selain lemuru, ada sejumlah jenis ikan lain yang juga mengandung omega 3. Sebagai contoh, ikan tuna, tenggiri, dan haring.

Lantas, bagaimana ketika bayi telah “menjumpai” dunia? Amat banyak pihak yang  menyatakan bahwa air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik buat bayi, terutama sampai usia 4-6 bulan. ASI juga bermanfaat untuk memicu perkembangan optimal otak bayi. Hal ini bisa terjadi dengan terdapatnya asam dokosaheksanoat (DHA) dan asam arakhidonat (AA) pada ASI.

Dalam usia 4-6 bulan itu, dianjurkan agar bayi hanya diberikan ASI tanpa makanan tambahan alias ASI eksklusif. DR. H. Irawan Mangunatmadja, Sp.A, menyatakan, lantaran ASI telah mengandung DHA, menjadi mubazir jika bayi di bawah usia 6 bulan diberikan lagi makanan suplemen. Nah, lain masalahnya jika karena suatu hal, sang ibu tak bisa memberi ASI untuk bayinya. Untuk itulah, ada banyak produk makanan tambahan berupa susu yang mengandung omega 3 sebagai “pengganti” ASI.

Patut juga dicatat, kekurangan yodium dan zat besi pun mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak. Menurut Dr. Hartono Gunadi Sp.A, spesialis anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, kasus yang banyak terjadi di kalangan anak-anak Indonesia justru kekurangan yodium dan zat besi.

Jika kekurangan zat besi, bayi akan menderita anemia. Berbagai penelitian menyebutkan anemia  mengakibatkan kemampuan perkembangan anak menjadi lebih lambat  ketimbang anak normal. Pada gilirannya, IQ-nya menjadi lebih rendah. Demikian pula bila bayi kekurangan yodium.

Jangan Digoreng
Ikan Lemuru (Sardinella Longiceph) sering disebut sebagai pemilik kandungan omega 3 tertinggi. Ironisnya, tak banyak orang yang mengenal apalagi pernah melihatnya. Jika Anda penasaran, kunjungi pasar swalayan besar. Bisa dipastikan, Anda akan menemui ikan yang banyak terdapat di perairan Selat Bali itu.

Selain dalam bentuk asli, ikan lemuru a bisa ditemui pula dalam makanan kalengan, pindang, tepung ikan, dan ikan asin. Jadi, kalau Anda berbelanja, sempatkan untuk memeriksa kandungan ikan kalengan. Siapa tahu Anda menjumpai lemuru.

Menurut DR. Dr. Fadilah Supari Sp.JP, dua porsi (sekitar 300 gr per porsi) ikan lemuru dalam seminggu telah memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ia menambahkan, jika kita mengonsumsi yang belum diolah pabrik, sebaiknya ikan tak digoreng. Tapi, cukup ditim karena omega 3 mudah menguap.

di ambil dari balita-anda..?

Tagged:

3 thoughts on “Menjaga Nutrisi, Menuai Kecerdasan

  1. cold stone creamery 17 Januari 2013 pukul 2:23 am

    Hello! This is my first visit to your blog! We are a team of volunteers
    and starting a new project in a community in the same
    niche. Your blog provided us useful information to work on.
    You have done a extraordinary job!

  2. Fernando 21 Mei 2013 pukul 11:49 am

    Way cool! Some very valid points! I appreciate you penning this write-up and
    also the rest of the site is also really good.

  3. youtube view increase 23 Juli 2013 pukul 12:52 am

    Wonderful article! That is the kind of information that should be shared across the net.
    Shame on the search engines for no longer positioning this publish
    upper! Come on over and talk over with my web site .

    Thank you =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: