Arsip Kategori: Artikel

Perbedaan Programmer Otodidak dan Lulusan Informatika

Pernahkah anda punya rekan yang bisa pemrograman komputer tapi tidak berlatar belakang informatika/sejenisnya? Saya punya. Mulai dari programmer yang copy paste source code sampai dengan yang mampu bikin class sendiri juga ada. Disisi lain saya juga memiliki teman dengan latar belakang informatika namun kemampuan codingnya sama seperti rekan saya yang otodidak, bahkan ada yang mengaku lulusan informatika namun tidak mampu melakukan coding program.

Saya punya teman, pintar, logic programmingnya oke, menguasai lebih dari satu bahasa pemrograman selain itu proses codingnya juga cepat. Kalo disuruh misalnya “Gue butuh program bla.. bla.. bla.., elo bisa buat?” dia langsung jawab “Bisa!”. Tapi, giliran disuruh bikin ER Diagram ataupun DFD dia bingung harus mulai darimana.

Lalu timbul pertanyaan saya, kenapa masih ada lulusan informatika bisa dikalahkan oleh orang-orang otodidak dalam pemrograman? sebegitu mudahkah menjadi seorang programmer? apakah hanya dengan mengetahui logika pemrograman dan syntax-nya maka sudah menjadi seorang programmer? Lalu apa yang membedakan programmer lulusan teknik informatika dan yang otodidak?

Berdasarkan pengalaman saya bertemu dengan programmer otodidak, hampir sebagian besar mengerti pemrograman namun tidak diawali dengan belajar teori-teori dasar pemrograman. Biasanya hal itu akan dipelajari sambil berjalan seiring dengan mencoba beberapa baris kode. Sedangkan dalam dunia pendidikan, AFAIK, sebelum coding diharuskan mengerti terlebih dahulu teori-teori dasar seperti misalnya DFD, ER Diagram, bit, Byte dan lain sebagainya, baru nanti akan melangkah ke pemrogramannya.

Jika anda programmer terlepas apapun latar belakangnya tentu pernah mengalami hal-hal seperti dibawah ini :

  • Penggunaan beberapa fungsi-fungsi sejenis yang terkadang membingungkan dalam penggunaannya. Seperti misalnya kapan harus menggunakan str_replace dan kapan menggunakan ereg_replace atau kenapa harus strstr daripada preg_match() dalam PHP?
  • Jika berhubungan dengan field-field database pernahkah penentuan type field berdasarkan alasan yang jelas? Seperti misalnya kenapa harus bigint daripada int atau langsung comot yang paling besar? *mysql style*
  • Kenapa harus ADO daripada DAO untuk melakukan koneksi ke database *Lha, masih pake VB 6.0? =))*
  • script coding yang sederhana, begin…end;

Jujur, untuk hal-hal seperti itu kadang saya harus buka buku lagi, ya maklumlah namanya juga programmer pemula dan otodidak pula *ngeles*.

Berkaca dari contoh kasus diatas, lalu apa yang seharusnya membedakan antara programmer otodidak dan programmer berlatar belakang informatika?

Menurut saya yang memiliki latar belakang informatika harus bisa mengungguli yang otodidak dengan menguasai teori-teori dasar ini. Kemampuan seperti menyusun ER Diagram, DFD, bit, Byte, alokasi memori dan hal-hal lainnya harus bisa dikuasai oleh yang berlatar belakang informatika. Bahkan akan lebih bagus jika programmer berlatar belakang informatika mampu menguasai itu semua namun dapat menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang lain. Bukan tidak mungkin programmer otodidak akan mempelajari hal seperti itu mengingat resources pemrograman sangat banyak beredar di internet. Ini tantangan yang akan dialami oleh lulusan informatika khususnya para programmer.

“Mengeluh”

  Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar. Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan teman-teman lama saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu, dan berbagai macam hal lainnya.

Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing seolah-olah siapa yang paling banyak mengeluh dialah yang paling hebat.

“Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!” “Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan “job-des” gue” “Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu”.

Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya. Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya. Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.

Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri.

Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia ? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan.

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Try it now:

  1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda  syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
  1. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
  1. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.
  1. “Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri.”

Note :
Saya bersyukur karena Anda telah membaca email ini dan saya akan lebih bersyukur lagi jika Anda memberikan sedikit pelajaran ini kepada beberapa teman2 anda tentang artinya bersyukur.

Semoga dibaca dan bermanfaat

Jadi lakukan mulai Hari ini……!!!!!

Mengapa Cincin Pernikahan Harus Ditaruh di Jari Manis?

Tulisan ini gw kutip dari milis dengan beberapa perubahan redaksi seperlunya… )

Mengapa Cincin Pernikahan Harus Ditaruh di Jari Manis??  Ikuti langkah berikut ini, Tuhan benar2 membuat keajaiban (ini berasal dari kutipan Cina)

  • Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam;
  • Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya;
    memasangkan tangan
    Memasangkan jari
  • Permainan dimulai, 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan;
  • Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari menwakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati.  Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti;
  • Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita;
  • sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak2.  cepat atau lambat anak2 juga akan meninggalkan kita;
  • selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Karena jari manis mewakili suami dan istri, selama hidup anda dan pasangan anda akan terus melekat satu sama lain.

memang benar jari yang paling tinggi, paling tengah, dalam posisi seperti gambar tersebut, mengakibatkan jari manis tidak bisa dibuka. Tetapi kalau kedua Jari Tengah dipertemukan seperti keempat pasang jari yang lain pasti jari manis yang bandel tadi bisa dibuka. Apa maknanya ?

Kalau semua jari dipertemukan (tidak ada yg ditekuk), memang betul semua jari bisa di buka. Hanya besarnya bukaan jari manis paling kecil, dibanding bukaan jari-jari lainnya.

Itulah Kebesaran Tuhan, tapi manusia selalu berusaha merubahnya.
Jari manis akan terbuka bila ada pihak luar yang membantu membukanya, atau memotong jari manis itu.

Pasangan Perkawinan akan lepas dan bubar bila ada kekuatan-kekuatan dari pihak luar yang
Membantu Melepaskannya“.

pendapat lain..

Ikatan suci perkawinan bukanlah benda mati yang tidak bisa berubah. Kembali harus ada komitmen dari yang terikat untuk menjaga ikatan itu. Apa mau ikatan itu tetap kuat atau bagaimana kualitas ikatan itulah . . . . . Harus ada usaha entah itu dari dua pihak, atau semula satu pihak untuk akhirnya menjadi komitmen dua pihak juga. . . . .

Catatan saya tentang pendidikan IT di Indonesia

Berawal dari blogwalking dan menemukan artikel yang ditulis oleh Dudi Gunardi, tentang perbedaan programmer otodidak dan lulusan informatika saya jadi teringat diskusi di milis (eks) kampus saya dulu, yang topiknya selalu berulang-ulang setiap ada mahasiswa baru. Beberapa pertanyaan yang sering sekali muncul :

* Saya kuliah kok malah diajarin Pascal, bukannya VB.net atau Java ?
* Terlalu banyak matakuliah tidak berguna di S1 ilmu komputer, seperti kalkulus, matematika diskrit atau bahkan geometri!
* Sudah 3 tahun saya kuliah, saya tidak mendapatkan apa-apa (apalagi jika fasilitas kurang mencukupi)
* Kuliah terlalu banyak teori, belajar jaringan kok tidak langsung praktikum pasang-pasang kabel atau setting router ?
* Saya kok tidak diajari MS Office, Photoshop atau banyak bahasa pemrograman!
* dll

Banyak sekali dan sebagian besar berputar-putar di sana. Berbicara tentang kualitas lulusan (sarjana) di bidang informatika ini, atau muncul fenomena seperti yang mas Dudi tulis yang ujungnya berkaitan dengan kesiapan lulusan perguruan tinggi untuk bisa langsung bekerja. Gap!.

Saya sendiri mungkin selama 4-5 tahun kuliah S1 masih belum menemukan jawabnya dan bertanya-tanya. Bagaimana tidak, IT ternyata sangat mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak “makan perguruan tinggi”, itu anggapan saya dulu. Beda dengan bidang kedokteran atau arsitektur. Kok saya tidak pernah mendengar ada dokter atau arsitek yang berasal dari lulusan ekonomi atau pertanian ya ?

Seiring waktu saya memperoleh beberapa hal sbb.

Mispersepsi goal dari pendidikan tinggi level sarjana (S1-S3) . Ini yang kadang tidak disadari. Sepemahaman saya, jenjang S1 (ke atas) memang dirancang untuk pendidikan dengan framework akademik, sehingga di sana banyak diberikan pemahaman akan teori atau konsep berpikir. Memang ada beberapa yang dipadukan dengan keterampilan praktis, tapi itu sifatnya hanya pendukung saja. Satu kompetensi yang harus ada pada seorang sarjana adalah melakukan penelitian dan pengembangan keilmuan. Dalam konteks ilmu komputer/informatika, inilah alasan kenapa kuliah-kuliah “matematika diskrit”, “teori komputasi”, dll juga menjadi prioritas.

Sebagai komplemen diciptakanlah program yang sifatnya lebih praktis/keterampilan, seperti program diploma ataupun profesi. Kendati demikian, program ini juga tetap menekankan pada conceptual framework. Banyak orang yang mengasosiasikan program diploma sebagai “lower level” dari program sarjana, padahal sebetulnya tidak. Ada program D4 (sarjana terapan) yang sepemahaman saya ini selevel dengan S1. CMIIW.

Munculnya program-program profesi bisa menjadi “jembatan” sementara dari gap ini, Yang sudah lama ada misalnya profesi dokter, apoteker dan notaris. Baru-baru ini muncul program profesi akuntan atau bahkan insinyur untuk sarjana teknik. Demikian pula program profesi dalam bentuk sertifikasi keahlian (CISA, MCP, PMP, CCNA, dkk).

Kemudian pasti akan ada pertanyaan “kalau gitu, kenapa harus ada S1, bukannya kita kuliah supaya cepat bekerja?”.

Menurut saya ini kurang tepat. Alur berpikirnya terbalik. Bukan kita kuliah supaya bisa dapat kerja, tapi seharusnya pekerjaan (industri/bisnis)-lah yang membutuhkan orang-orang berkualifikasi S1. Lalu mengapa di Indonesia kenyataannya seperti ini ? karena industri di Indonesia masih terfokus pada produksi, tidak riset/perancangan. Seorang sarjana ilmu komputer, seharusnya masuk ke industri sebagai periset atau perancang sistem/solusi, bukannya tenaga programmer apalagi technical support IMO.

Jika anda hanya ingin cepat mahir menguasai teknik pemrograman Java, melakukan instalasi LAN atau cepat menguasai router CISCO sehingga bisa segera bekerja, kenapa harus kuliah S1 selama 5 tahun (apalagi biaya S1 sekarang mahal) ? Anda cukup memahami sedikit saja konsep pemrograman serta jaringan (otodidak saja) dan ikut program keterampilan/sertifikasi di lembaga-lembaga yang jumlahnya menjamur, dan perbanyak latihan. Itu saja!. Saya sendiri pernah menjadi programmer Delphi ya dengan otodidak. Tapi saat ini, ketika saya mulai bekerja di level perancangan atau bahkan manajemen, barulah buku-buku Software Engineering-nya Pressman yang diajarkan dulu mulai dibuka lagi.

Dengan bahasa lain apakah saya bisa mengatakan bahwa industri di Indonesia sebagian besar masih membutuhkan kualifikasi praktisi/profesi ketimbang seorang sarjana ?

Yang kedua, pertanyaan-pertanyaan tadi muncul karena mungkin mispersepsi tentang ilmu komputer itu sendiri.

Satu hal lain yang memang menjadi keunggulan sekaligus tantangan orang IT adalah bahwa perkembangan IT ini sangat pesat sehingga hal-hal yang bersifat skills memang harus selalu ditingkatkan dengan cepat. Dengan dukungan conceptual framework yang matang, logikanya orang yang punya latar belakang akademis IT akan lebih cepat menyesuaikan. Akan tetapi bagaimanapun, pada era informasi ini : knowledge is power, siapa yang lebih cepat dan banyak menguasai pengetahuan/informasi, dia akan memenangkan persaingan.

Bagaimana Caranya Menjadi Seorang Programmer Komputer

Bagaimana caranya menjadi seorang programmer komputer? Apa saja yang perlu dipelajari untuk bisa memprogram komputer? Ini juga termasuk pertanyaan yang tidak jarang diajukan oleh pengunjung situs ini. Tentu saja, yang mengajukan pertanyaan semacam ini adalah mereka yang bukan berlatar belakang informatika. Kemampuan pemrograman komputer saat ini memang bukan monopoli mahasiswa maupun sarjana informatika saja. Selain bisa dipelajari secara otodidak, beberapa jurusan non-informatika di perguruan tinggi juga memasukkan dasar-dasar pemrograman komputer dalam kurikulum mereka.

Mempelajari pemrograman komputer sebaiknya dimulai dari mempelajari bahasa pemrograman yang relatif sederhana terlebih dahulu. Bahasa Pascal/Turbo Pascal maupun C/C++ merupakan alternatif yang baik untuk memulai. Di kebanyakan perguruan tinggi, Pascal merupakan bahasa pemrograman pertama yang diajarkan kepada mahasiswa jurusan informatika. Ini karena Pascal merupakan bahasa pemrograman yang sangat terstruktur sehingga memungkinkan mahasiswa untuk belajar mengasah logika pemrograman. Sementara itu, di perguruan tinggi yang lebih maju, semacam ITB atau UI, para mahaiswa semester awal akan langsung dikenalkan dengan bahasa C dengan pertimbangan bahwa penggunaannya lebih luas ketimbang Pascal sehingga lebih aplikatif. Bagi yang belajar pemrograman secara otodidak, saya sarankan untuk mulai dari Pascal dahulu, dan berikutnya barulah mempelajari C.

Saya tidak akan menyarankan untuk mempelajari beberapa bahasa pemrograman sekaligus secara simultan. Hal ini hanya akan membuat bingung sehingga malahan akan memperlambat proses belajar. Saya cenderung menyarankan untuk mempelajari dan menguasai secara sungguh-sungguh pada satu bahasa pemrograman tertentu. Sekali kita menguasai sebuah bahasa pemrograman, tidak sulit untuk mempelajari bahasa pemrograman lain. Pada pokoknya, setiap bahasa pemrograman hanya memiliki perbedaan pada sintaks dan cara-cara pendeklarasian variabel, konstanta, maupun hal-hal khusus semacam array, pointer, atau linked list (perkecualian ada pada bahasa assembly atau bahasa dengan struktur ‘nyeleneh’ semacam Prolog). Itulah sebabnya bagi mereka yang sudah akrab dengan pemrograman komputer, tidak akan terlalu kesulitan untuk mempelajari bahasa pemrograman baru.

Mirip seperti kegiatan hacking, pemrograman komputer lebih banyak mengandung unsur seni ketimbang teknis. Mempelajari ‘seni’ pemrograman merupakan hal yang tidak kalah pentingnya selain mempelajari bahasa pemrograman itu sendiri. Subjek-subjek semacam teknik flowchart, struktur data, maupun logika dan algoritma pemrograman adalah hal yang perlu dipelajari untuk memahami ‘seni’ memprogram komputer. Juga jangan lupa untuk mempelajari teknik-teknik pemrograman semacam OOP (Object Oriented Programming, Pemrograman berorientasi objek). Semua itu akan sangat berguna dalam kegiatan pemrograman yang sesungguhnya, terutama untuk membuat aplikasi-aplikasi yang kompleks.

Beberapa bahasa pemrograman didesain untuk keperluan khusus. Bahasa assembly perlu dipelajari apabila kita ingin menjadi programmer sistem yang banyak melakukan akses pada hardware. Sebaliknya, beberapa bahasa pemrograman didesain untuk mengembangkan aplikasi yang spesifik. Bahasa Cobol misalnya, lebih banyak digunakan untuk aplikasi bisnis sementara Prolog biasanya dipakai untuk menciptakan software yang memiliki kemampuan expert system/sistem pakar (semacam teknik kecerdasan buatan). Tidak perlu kemaruk mempelajari semuanya. Cukup pelajari bahasa pemrograman yang sekiranya dibutuhkan saja.

Untuk ukuran saat ini, bahasa pemrograman visual dibawah lingkungan Windows seperti Visual Basic atau Delphi merupakan bahasa pemrograman ‘favorit’ para developer Untuk mereka yang berkecimpung dalam pemrograman database, penguasaan terhadap SQL dan variannya (MS SQL, MySQL maupun PosgreSQL) merupakan nilai tambah. Sementara itu, penguasaan bahasa C merupakan keharusan bagi para programmer yang berkutat dengan OS Linux maupun pengembang software yang sifatnya lintas platform.

Terakhir, komputer dan pemrogramannya adalah dunia yang terus berkembang secara dinamis. Jangan berpuas diri dengan kemampuan yang dimiliki saat ini. Bahasa dan teknik pemrograman baru terus bermunculan dari waktu ke waktu. Seorang programmer sejati tidak pernah berhenti belajar dan mengasah kemampuannya.

Benarkah Delphi Sudah Mati?

Kasak-kusuk bahwa Delphi akan mati kiranya hampir mendekati kenyataan. Masa sich? Semua ini bermula sejak pencipta Delphi, Anders Hejlsberg, hengkang ke Microsoft! Beberapa spekulasi mulai muncul, baik yang positif maupun yang negatif. Termasuk juga hengkangnya salah satu Senior R&D Borland, Paul Gross, juga ke Microsoft.

Dan yang lebih mengejutkan lagi pada tanggal 8 Pebruari 2006, Borland menyatakan bahwa akan menjual produk IDE nya karena mereka fokus ke ALM (Application Lifecycle Management). IDE yang dijual termasuk: Borland Developer Studio (Delphi®, C++Builder® and C#Builder®) dan semua produk JBuilder®.

Selanjutnya 5 September 2006, Borland akhirnya menyerah juga dengan adanya IDE gratis dari Microsoft (MS Visual Studio) dan Sun Java (Netbeans, Eclipse dan Java Studio Creator), dengan cara merelease juga Turbo Delphi/C++/C# versi Explorer secara gratis, sementara versi Professional hanya sekitar USD 400, sebelumnya harga BDS (Borland Developer Studio) mencapai ribuan dollar.

Hal ini tidaklah mengejutkan, karena IDE Java dan Microsoft Visual Studio berkembang luar biasa. MS mencoba menahan laju Java dengan cara menggratiskan IDE nya, akhirnya “pelanduk juga yang mati”. Fenomena gratis ini sebenarnya akal-akalan saja, sebab di dunia ini tidak ada yang gratis 100%, pasti ada harga yang harus dibayar. Trik gratis ini hanyalah dipakai untuk menarik orang-orang dari negara biasa (bukan negara maju). Umumnya negara maju sudah menerapkan system komputer, sehingga lahannya sudah habis. Sedangkan negara berkembang, apalagi miskin, mau memakai teknologi tetapi mencari yang gratis.

Akhirnya, trik marketing berbicara juga, memang softwarenya gratis tetapi tidak untuk: service, maintenance, training dan support. Hal ini sudah terbukti pada beberapa software seperti Redhat Linux yang semula gratis akhirnya memecah produk mereka menjadi: Redhat (RH) Linux dan Fedora Core (FC), di mana RH bayar dan FC gratis, tetapi tidak gratis untuk masalah service, training dan sebagainya! Demikian juga dengan SUSE Linux, MS Visual Studio, Java, MySQL dan sebagainya.

Mau gratis? Kalo demikian, coba pikir, siapa yang membayar gaji karyawan Sun Java, MS dan Borland? Emangnya duit turun dari langit. Demikian negara berkembang dan miskin, mudah sekali diarahkan dengan trik marketing. Makanya, jangan sepelekan ilmu marketing, ingat: orang IT bisa membuat program dengan harga 1 juta tetapi orang marketing bisa menjualnya dengan harga hanya 100 ribu tetapi keuntungannya mencapai 100 juta!!!

Membangun Software House

Dalam sebuah milis, muncul diskusi tentang perbandingan kerja di bidang IT atau bikin software house sendiri. Ada seseorang yang menyampaikan pandangan menarik tentang tips untuk memulai sebuah software house.Buatlah perusahaan real / legal / resmi, artinya anda harus mengurus SIUP, TDP, dan NPWP, karena dengan berbekal NPWP, anda bisa bersaing dengan perusahaan2 untuk mendapatkan tender2 yang dibuat oleh badan / instansi pemerintahan & Customer akan merasa lebih aman karena persh kita terdaftar di Dirjen Pajak. Saat ini buuaaannyyuuuaaakk sekali perusahaan fiktif yang promosi bahwa mereka bisa membuat program ini itu dan yang lainnya tapi mereka tidak akan bisa menembus badan / instansi pemerintahan ( kecuali dapat proyek sub dari perusahaan lain ).

Create a customer list. Artinya setiap kesempatan yang menghampiri anda jangan pernah ditolak, entah itu proyek besar ataupun kecil ataupun cuma proyek perseorangan, karena promosi yang paling mujarab adalah promosi dari mulut ke mulut, mungkin anda sekarang dapat proyek kecil, tapi biasanya kalau customer tersebut suka dengan hasil yang anda tunjukkan, tidak tertutup kemungkinan dia akan merekomendasikan anda ke temannya yang bakal jadi customer anda selanjutnya untuk membuat suatu proyek besar. Semakin banyak customer anda semakin besar kepercayaan orang kepada anda.

Untuk pertama – tama, jika modal anda tidak mencukupi, buatlah program dengan developer yang free, contoh : database menggunakan firebird, postgreSQL atau MySQL atau SQL Server 2005 Express Edition atau Oracle Express Edition, atau PHP.
Selalu gunakan software licensed jika suatu saat ada sidak dari DepKomInfo anda tidak perlu takut dituntut.

Selalu bawa kartu nama anda di dompet & sebarkan kartu nama anda ke setiap orang yang anda temui, entah itu di terminal, airport, café, ataupun di seminar2 yang anda ikuti, karena anda tidak akan pernah bisa menduga kapan anda akan bertemu dengan calon customer anda. Sebuah kartu nama yang ideal adalah : Terdapat logo perusahaan yang mudah diingat oleh orang, buat sebaris slogan tentang perusahaan anda contoh : Sosro Ahlinya Teh, Coca Cola Segarnya Mantap, dll. Selalu sertakan website & email address anda disana. Pastikan tulisan di kartu nama anda terbaca dengan jelas sehingga orang tidak perlu memicingkan matanya hanya untuk membaca. Gunakan warna yang cerah atau foto, selalu gunakan kertas yang mengkilat dan tebal karena ada kemungkinan kartu anda dimasukkan ke dalam tumpukan kartu nama yang lain, orang akan lebih mudah tertarik kepada kartu nama anda, efek psikologis ini memungkinkan anda memperoleh project lebih banyak.

Buat website / minimal blog di internet, sehingga orang2 tahu bahwa ada nama perusahaan anda di dunia ini. Jika memungkinkan beli domain sendiri, saat ini harga domain sangat murah kok, bahkan ada yang cuma 100 ribuan setahun, di depan customer, anda akan terlihat lebih “keren”, meskipun kita yang di bidang IT sama – sama tahu bahwa itu adalah hal biasa, ya nggak ?….

Selalu update pengetahuan & wawasan anda tentang IT dan juga tentang yang lainnya, contoh : jika anda akan membuat program akuntansi, pastikan anda paham tentang akuntansi, jika akan membuat program tentang HRD / payroll, pastikan anda tahu tentang peraturan2 pemerintah & lainnya yang berhubungan. Karena saya percaya bahwa otak kita adalah satu-satunya “HARDDISK” yang tidak ada “MAXIMUM CAPACITY”-nya. Jangan sampai terlihat “o’on” di depan customer waktu mereka ngajak ngobrol kita.

Jika anda mendapatkan sub – proyek dari persh. Lain, pastikan anda boleh memasang nama Customer sebagai customer list kita, atau minimal nama perusahaan pemberi proyek tersebut.

Bersiap – siaplah mengetatkan ikat pinggang karena tidak ada perusahaan yang langsung besar di dunia ini, sesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang anda terima, contoh : William Dell dulunya juga jualan komputer dari rumah ke rumah sampai sekarang dia bisa bikin persh pembuat komputer berdasarkan pesanan yang besar di dunia ini.

Jika perlu, anda merangkap sebagai Direktur, Marketing, Sales, dan Programmer sekaligus dalam perusahaan yang anda pimpin untuk menghemat biaya pengeluaran. Jangan terburu-buru ambil karyawan banyak2 pada awal pendirian anda. Namun sekali lagi, dimata Customer, anda adalah Direktur, so … behave like a Leader.

Bersahabatlah dengan teman anda dan juga Cintailah musuh anda. Lihatlah kelebihan2 yang dimiliki oleh pesaing anda dan pastikan anda bisa membuat karya yang lebih baik, kebanyakan orang hanya melihat kekurangan orang lain dan berusaha membetulkannya, di dunia bisnis itu kurang, dan jika anda hanya berbuat seperti itu, maka anda hanya akan bisa “BERTAHAN” dan tidak bisa “MAJU”.

Jika anda merasa sudah telalu overcapacity karena terlalu banyak proyek, berikan kepada orang yang PALING ANDA PERCAYA dan sebisa mungkin freelancer yang tidak ada kerjaan serta jangan anda lepas 100%, dan selalu bertindaklah sebagai “Qualiti Assurance” yang cerewet dan detail, percuma jika anda memberikan kepada ORANG YANG PINTER tapi pada akhirnya projectnya tidak selesai. Sekali anda cacat dimata customer, selamanya dia akan mengumumkan ke teman2nya bahwa anda adalah orang yang tidak dapat dipercaya.

Ada pepatah Inggris : “We teach some by what we say. We teach more by what we are. We teach most by what we do. Everyone knows you – not by what you say or what you are. They know you by what you do

Pada awal2 pendirian akan banyak sekali masalah yang datang, entah itu dari keluarga, teman, atau bahkan saingan. Perkuat mental anda, bicarakan hal ini dengan keluarga, teman dan yang lain supaya mereka mengerti & minta dukungannya.

Jangan terburu-buru pinjam modal ke BANK, pengusaha yang baik selalu berusaha dari dompetnya sendiri karena anda tidak perlu dipusingkan dengan membayar cicilan hutang.

Ungkapan “PELANGGAN ADALAH RAJA” adalah salah. Anda harus selalu membiasakan diri untuk menganggap “PELANGGAN ADALAH ORANG BIASA” yang perlu kita jadikan mitra / partner / konsultan. Jangan takut untuk membetulkan usulan / pilihan dari customer yang kita anggap salah karena kita memiliki solusi yang lebih baik. Dengan menganggap customer sebagai orang biasa yang juga punya kekurangan baik dibidang informasi atau pengetahuan maka kita akan lebih berhati hati dalam melakukan transaksi dan kita akan dengan sabar mendampingi prospect atau calon customer dalam menentukan pilihan atas produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhannya bukan sekedar yang diinginkannya. Kita pun akan lebih terpanggil untuk tidak bosan menghubungi customer untuk menanyakan apakah dia puas dengan produk/jasa yang dibelinya.

Persiapkanlah administrasi & dokumen2 penunjang bagi perusahaan anda, contoh : template proposal, faktur pajak, company profile, dll. Jangan buang waktu anda percuma dengan mencari arsip yang tidak tertata secara rapi.

Last but not Least. Selalu minta tuntunan dari TUHAN. dalam bisnis ada banyak perkara yang tidak bisa selalu diputuskan oleh kepintaran & kerja keras. Misalnya: bagaimana memilih bisnis yang sesuai, bagaimana memilih investment yang tepat, bagaimana memilih orang orang yang tepat dalam berpartner, bagaimana tahu dan merasakan kalau kamu akan dicurangi pegawai, dan banyak keputusan bisnis penting lainnya. Orang umum bilang, asah saja intuisi kita, tapi saya percaya pertolongan Tuhan memampukan kita untuk lewati semua ini.