Arsip Kategori: Tentang Anak

Untuk para Orang Tua

Untuk para Orang Tua, mudah-mudahan bermanfaat:

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana.

Di situlah awal pembicaraan “menyimpang” dimulai. Ia mengeluh,
” Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.”
“Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain.

“Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota , itu masih dapat dimengerti,” katanya.
“Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”
“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.

Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,”Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?”
“Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”

Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Suami saya bertanya,
“Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?”
Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah.
Namun aku tahu betul ia pernah berkata,
“Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,
“Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola”
“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang”
Ia hanya berkata, “Oh ….”
Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”
“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan”
“Nak, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;
Suatu saat aku meneleponnya.
“Aku ingin bertemu denganmu, Nak”
Ia bilang,”Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis seperti aku;
Ya betul, ternyata anakku “aku banget”.

Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya.

Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya,
“I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”,kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.

Sumber: Anonymous.

Iklan

MERANGSANG KECERDASAN ANAK

Otak merupakan benda yang paling vital dalam diri seseorang. Organ itu mengatur seluruh bagian dalam tubuh. Mulai dari proses berpikir, emosi, dan berbagai macam kegiatan manusia.

Yang penting dicatat, organ ini tumbuh secara luar biasa pada masa anak-anak. Sampai pada usia 2 tahun berat otak akan mencapai  75 persen berat otak dewasa. Menurut Dr. Hartono Gunadi, Sp.A, dari RSUPN Cipto Mangunkusomo, sampai dengan bayi berusia 2 tahun, pertumbuhan dan perkembangan otak anak telah mencapai 90 persen. Pertumbuhan otak tidak akan terjadi lagi setelah ia dewasa.

Faktor yang paling penting untuk pembentukan otak adalah faktor nutrisi untuk mendukung pembentukan sel-sel otak. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anak, Anda perlu tahu nutrisi seperti apa yang berperan dalam pembentukan otak sang buah hati, mulai dari dalam kandungan hingga remaja.

Masih ada lagi hal yang penting pada proses pertumbuhan seorang anak, yakni proses tumbuh kembang. Tumbuh kembang merupakan sebuah istilah yang mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tapi saling berhubungan dan sulit untuk dipisahkan. Makna pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau dimensi dalam tingkat sel, organ atau individu. Sedangkan perkembangan lebih menitikberatkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ ataupun individu, termasuk perubahan aspek sosial, atau emosional akibat pengaruh lingkungan.

Yang jelas, untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, Anda harus mengetahui faktor dan aspek apa saja yang mempengaruhinya.

PERANAN NUTRISI

Sewaktu masih dalam kandungan pembentukan otak anak sudah dimulai, dari neurisasi primer hingga mielinisasi. Singkat kata: perkembangan otak pada masa janin, dimulai dengan pertumbuhan saraf yang merupakan komponen dasar sampai kemudian akan terbentuk otak.

Setelah bayi lahir, maka usia yang paling penting dalam kaitannya dengan pertumbuhan otak adalah 0-2 tahun. Periode tersebut penting karena masa usia bayi dari 0-2 tahun adalah periode emas. Dalam periode inilah terjadi perkembangan saraf otak yang tercepat, khususnya mielinisasi. Selanjutnya memang terus terjadi perkembangan hingga usia 5 tahun, namun tidak secepat pada usia sebelumnya. Dalam masa ini maka yang terjadi adalah pengorganisasian perkembangan dan hubungan antarjaringan (impuls) otak.

Faktor nutrisi berperan mulai dari kandungan, jadi seorang ibu yang mengandung harus memperhatikan asupan gizi, bukan cuma untuk dirinya, juga untuk sang janin. Yang harus diperhatikan adalah protein dan asam lemak esensial.

Air susu ibu masih disebut sebagai makanan terbaik untuk bayi. Tapi, setelah proses menyusui dilampaui, Anda harus memikirkan nutrisi sang anak. Bagi Anda yang tak dapat menyusui anak karena sesuatu hal, pemilihan nutrisi untuk bayi harus dipertimbangkan dengan matang, demi perkembangan kecerdasannya. Nutrisi yang diyakini dapat meningkatkan kualitas otak anak adalah asam lemak DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat). Asam lemak ini merupakan asam lemak esensial, artinya tidak dapat dibentuk oleh tubuh sehingga harus ditambah dari luar. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut maka orang tua dapat menggunakan berbagai produk yang mengandung DHA dan AA serta zat nutrisi lain.

Ada banyak produk makanan tambahan yang mengandung DHA beredar di pasaran. Ada tiga merek produk yang telah terdaftar dan lolos penilaian ketat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM). Tiga produk tersebut:  PROLACTA With DHA For Baby, Flavettes Junior, dan Sea Quill. Ketiga produk tersebut dianggap memenuhi standar kebutuhan nutrisi otak bayi, karena mengandung paling tidak empat jenis nutrisi, yaitu asam lemak esensial Omega 3, AA, DHA, dan  EPA (asam ekosapentanoat). Namun, di pasaran sendiri ada banyak produk makanan tambahan yang juga mengandung DHA. Sebelum membeli produk, Anda perlu mempertimbangkan mutu dan biayanya.

DI LUAR FAKTOR NUTRISI

Setelah otak seorang anak terbentuk, maka ada berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangannya. Teramat sayang bila anak Anda sudah memiliki sel-sel otak yang berkualitas, namun otaknya dibiarkan tanpa didukung pertumbuhannya. Faktor pendukung antara lain, perhatian orang tua yang berpengaruh bagi aspek emosi. Faktor stimulan juga akan mengaktifkan sel otak anak Anda sehingga perkembangan selnya akan lebih terpacu.

Perhatian dan stimulan dapat diberikan pada saat dalam kandungan. Bentuknya bisa beragam dan sederhana. Misalnya, ajaklah bayi dalam kandungan Anda atau pasangan Anda berbicara, atau elus-eluslah  perut Anda. Memperdengarkan musik klasik juga termasuk stimulan. Cara seperti itu dapat membuat janin merasa dekat dengan ibunya. Perkembangan otaknya pun terangsang oleh tindakan-tindakan stimulasi di atas. Tanpa adanya faktor perhatian dan stimulan, jangan harap Anda bisa mendapatkan anak yang berkualitas.

Pada tahap tersebut, otak membutuhkan banyak zat-zat gizi untuk proses mielinisasi.  Pada proses mieliniasi, sel-sel otak dilatih untuk membuat sirkuit yang menghubungkan antarsel yang sama atau antarsel yang berbeda. Sirkuit ini oleh Dr. Wendra Ali, Sp S,

diambil dari balita-anda..?

Menjaga Nutrisi, Menuai Kecerdasan

Semua orang tua menginginkan anak-anak mereka tumbuh dengan kecerdasan yang tinggi. Kalau bisa sejenius Albert Einstein. Persoalannya, untuk membuat anak Anda mempunyai kecerdasan yang normal, Anda tak boleh lengah memberikan asupan gizi demi pertumbuhan dan perkembangan otaknya.

Berbagai penelitian mutakhir menyimpulkan, ada korelasi kuat antara gizi dengan perkembangan otak anak. Bahkan, keterkaitan itu sudah terjalin sejak si bocah masih mendekam di kandungan sebagai janin.

Pertumbuhan otak bayi berlangsung segera setelah pembuahan. Otak manusia mulai terbentuk pada hari ke-8 setelah konsepsi (saat sel sperma membuahi sel telur). Setelah itu, otak tumbuh amat cepat sampai bayi berusia 18 bulan. Pertumbuhan otak ini berlangsung terus hingga bayi lahir. Pada akhir masa kehamilan (bulan ke-7 sampai ke-9) sel-sel otak mulai membutuhkan rangsangan agar dapat berfungsi optimal.

Kalangan kedokteran menyebut masa-masa di atas sebagai periode lompatan pertumbuhan otak atau brain growth spurt, disebut juga “periode emas”. Pada periode ini, neuron (sel-sel saraf) sangat peka dan sangat dipengaruhi situasi lingkungan. Tak pelak, periode ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi meningkatkan kecerdasan anak.

Menyadari kehadiran perode penting itu, Dr. Rudiyanti Sp.OG, spesialis obstetri dan ginekologi dari RS Internasional Bintaro, menyatakan, perkembangan otak bayi mesti dicermati, bahkan ketika sang ibu masih menjalani masa kehamilan. Konkretnya, pada masa krusial tersebut, ibu sangat dianjurkan mengonsumsi makanan kaya gizi yang mencakup makanan tinggi protein, tanpa melupakan unsur lain seperti mineral, fosfor, dan air.

Protein merupakan zat gizi penting yang menjadi struktur dasar semua sel-sel hidup. Protein memiliki struktur molekul kompleks yang terdiri dari banyak asam amino. Namun, tak semua asam amino dapat dibentuk tubuh manusia. Asam amino yang tak dapat dibentuk tubuh harus diperoleh dari makanan sehari-hari dan disebut asam amino esensial.

Ada beragam sumber protein. Biasanya, sumber-sumber itu dibedakan menjadi dua: protein hewani dan nabati. Sumber protein hewani antara lain adalah susu, telur, daging, dan ikan. Sementara, protein nabati berasal dari, misalnya, beras, gandum, dan kacang-kacangan.

Jelas, asupan protein amat vital. Jika kurang, akan terjadi kondisi kekurangan energi protein atau KEP. Jika KEP terjadi pada saat janin berada dalam kandungan, berat otak akan berkurang sampai 13 persen. Berkurangnya berat otak ini disebabkan jumlah sel dan ukuran otak yang berkurang. Defisit perkembangan otak akan sulit terkejar karena masa cepat tumbuh hanya berlangsung sampai usia 18 bulan. Lebih jauh, KEP akan menyebabkan rendahnya nilai IQ, kemampuan mengenali bentuk geometrik, dan kemampuan berkonsentrasi.

Toh, mohon diiingat, protein hanya salah satu unsur yang mempengaruhi perkembangan otak. Selain protein, asam lemak omega 3 merupakan zat gizi yang harus pula terpenuhi kebutuhannya. Asam lemak omega 3 ini merupakan turunan dari prekursor atau pendahulunya, yakni asam lemak esensial linoleat dan alinolenat. Ada tiga ragam asam lemak omega 3: LNA (asam alfa-linolenat), EPA (eikosapentaenoat), serta DHA (dokosaheksaenoat).

Omega 3 berperan vital dalam proses tumbuh kembang sel-sel neuron otak untuk bekal kecerdasan bayi yang dilahirkan. Menurut DR. Dr. Fadilah Supari, Sp.JP, ahli jantung RS Harapan Kita, dalam disertasinya beberapa tahun silam, omega 3 yang banyak terdapat di ikan-ikan laut dalam tak hanya memperkuat daya tahan otot jantung, tetapi juga mampu meningkatkan kecerdasan otak bila diberikan sejak dini.

Yang menjadi masalah, sekali lagi, asam lemak esensial tidak bisa dibentuk dalam tubuh. Karena itu,  harus dipasok langsung dari makanan. Tak ayal, sang ibu yang harus berinisiatif melengkapi menu makanannya dengan kandungan omega 3.

Berdasarkan penelitian Fadilah, ikan lemuru (sardinella longiceph) merupakan ikan yang paling banyak mengandung omega-3. Selain lemuru, ada sejumlah jenis ikan lain yang juga mengandung omega 3. Sebagai contoh, ikan tuna, tenggiri, dan haring.

Lantas, bagaimana ketika bayi telah “menjumpai” dunia? Amat banyak pihak yang  menyatakan bahwa air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik buat bayi, terutama sampai usia 4-6 bulan. ASI juga bermanfaat untuk memicu perkembangan optimal otak bayi. Hal ini bisa terjadi dengan terdapatnya asam dokosaheksanoat (DHA) dan asam arakhidonat (AA) pada ASI.

Dalam usia 4-6 bulan itu, dianjurkan agar bayi hanya diberikan ASI tanpa makanan tambahan alias ASI eksklusif. DR. H. Irawan Mangunatmadja, Sp.A, menyatakan, lantaran ASI telah mengandung DHA, menjadi mubazir jika bayi di bawah usia 6 bulan diberikan lagi makanan suplemen. Nah, lain masalahnya jika karena suatu hal, sang ibu tak bisa memberi ASI untuk bayinya. Untuk itulah, ada banyak produk makanan tambahan berupa susu yang mengandung omega 3 sebagai “pengganti” ASI.

Patut juga dicatat, kekurangan yodium dan zat besi pun mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak. Menurut Dr. Hartono Gunadi Sp.A, spesialis anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, kasus yang banyak terjadi di kalangan anak-anak Indonesia justru kekurangan yodium dan zat besi.

Jika kekurangan zat besi, bayi akan menderita anemia. Berbagai penelitian menyebutkan anemia  mengakibatkan kemampuan perkembangan anak menjadi lebih lambat  ketimbang anak normal. Pada gilirannya, IQ-nya menjadi lebih rendah. Demikian pula bila bayi kekurangan yodium.

Jangan Digoreng
Ikan Lemuru (Sardinella Longiceph) sering disebut sebagai pemilik kandungan omega 3 tertinggi. Ironisnya, tak banyak orang yang mengenal apalagi pernah melihatnya. Jika Anda penasaran, kunjungi pasar swalayan besar. Bisa dipastikan, Anda akan menemui ikan yang banyak terdapat di perairan Selat Bali itu.

Selain dalam bentuk asli, ikan lemuru a bisa ditemui pula dalam makanan kalengan, pindang, tepung ikan, dan ikan asin. Jadi, kalau Anda berbelanja, sempatkan untuk memeriksa kandungan ikan kalengan. Siapa tahu Anda menjumpai lemuru.

Menurut DR. Dr. Fadilah Supari Sp.JP, dua porsi (sekitar 300 gr per porsi) ikan lemuru dalam seminggu telah memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ia menambahkan, jika kita mengonsumsi yang belum diolah pabrik, sebaiknya ikan tak digoreng. Tapi, cukup ditim karena omega 3 mudah menguap.

di ambil dari balita-anda..?

MENGOCEH PERTANDA CERDAS

Mengoceh bagi bayi merupakan aktivitas yang cukup rumit. Diperlukan
rangsangan yang tepat agar ocehannya makin “bicara”.

Kalau bayi mulai mengoceh, ia tidak sedang iseng belaka. Ia justru
sedang menunjukkan kemampuannya. Pendapat ini antara lain didasari
beberapa penelitian yang dilakukan di Amerika. Patricia Kuhl, Direktur
Departemen Speech and Hearing University of Washington, mengungkapkan
dengan mengoceh berarti bayi berlatih membangun fondasi berbahasa.
Mengoceh juga menunjukkan kecerdasan si kecil. Kenapa? Karena bayi harus
mentransformasikan suara atau kata-kata yang didengarnya untuk
diselaraskan dengan kemampuan bicaranya. Senada dengan Kuhl, seorang
spesialis percakapan dari University of Kansas, Mabel Rice, mengatakan
bayi yang mengoceh berarti sedang belajar berbahasa.

Hasil penelitian pakar perkembangan otak dari Amerika tahun 1999,
Huttenlocher, Jusyck, dan Kuhl juga menyebutkan, pada umur 6-12 bulan
bayi dapat mengenali pola bicara orang di sekelilingnya. Bayi mampu
mengenali kata-kata yang sering diucapkan ayah/ibunya. Makin sering
orang tua berbicara kepada si kecil maka semakin kaya perbendaharaan
kata yang diperolehnya. Alhasil, dia akan lebih terampil berbicara pada
umur 5-6 tahun. Jadi, ternyata bayi tak cuma mengingat perkataan orang
di sekelilingnya tapi juga menganalisanya. Bahkan, ia memiliki kemampuan
mengingat struktur percakapan orang yang sedang berbicara di sekitarnya.

MENSTIMULASI KECERDASAN
Memang, tidak bijaksana jika kita hanya menganggap mengoceh sebagai
satu-satunya tolak ukur kecerdasan bayi. Seperti diungkapkan dr.
Soedjatmiko, Sp.A(K),M.Si., kecerdasan merupakan suatu hal yang
kompleks. Antara lain membutuhkan proses melihat, mendengar,
membandingkan, menyamakan, mengelompokkan, menggabungkan, menyimpan,
merepresentasikan atau mengeskpresikan melalui berbagai cara, baik
verbal maupun gerakan. Nah, agar mengoceh dapat memberi kontribusi besar
kepada kecerdasannya, orang tua perlu menanggapi ocehan tersebut dengan
penuh kasih sayang. “Dengan begitu bayi jadi merasa aman dan nyaman. Hal
ini sangat penting untuk pembentukkan attachment serta basic trust pada
bayi,” papar Ketua Subbagian Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI ini.
Mengoceh secara tidak langsung akan merangsang kecerdasan-kecerdasan
lainnya, termasuk kecerdasan emosional, komunikasi, dan logika
matematika. Lo, kok, sampai ke logika matematika segala? “Ya, kalau kita
ingin bayi terbiasa dengan matematika, ajaklah ia berbicara mengenai
konsep besar-kecil atau hitungan seperti penjumlahan dengan menggunaan
alat peraga mainan. Secara otomatis hal itu menstimulasi kecerdasan
matematikanya. Tentunya dengan syarat, lakukan dalam suasana bermain
yang menarik dan menyenangkan,” kata Soedjatmiko.

TAHAPAN KEMAMPUAN BICARA

Kemampuan berbicara pada bayi terdiri atas beberapa tahapan. Berikut
tahapannya menurut Soedjatmiko:

* Usia 0- 3 bulan. Bayi mulai menunjukkan reaksi terhadap bunyi-bunyian
yang didengarnya. Dia akan mencari sumber suara tersebut. Si kecil juga
perhatian terhadap suara musik atau nyanyian.

* Usia 3-6 bulan. Si kecil memandang orang yang berbicara padanya. Dia
juga dapat tertawa dan mengeluarkan suara menandakan suasana hati
gembira atau sebaliknya. Bayi akan terdiam memperhatikan/mendengar suara
yang dikenalnya.

* Usia 6 -8 bulan. Bayi mulai bisa mengucapkan satu suku kata. Misalnya,
“Ma, pa, ta…da.” Si kecil juga akan menjerit atau mengoceh minta
diperhatikan. Di usia ini bayi menanggapi pembicaraan.

* Usia 8-10 bulan. Bayi mulai bisa bersuara bersambung. Misalnya,
“Ma-ma-ma-ma, pa-pa-pa-pa, da-da-da-da, ta-ta-ta-ta.” Ocehannya mulai
mirip dengan bicara.
* Usia 10-13 bulan. Si kecil mulai bisa memanggil. Misalnya, “Mama,
Papa!” Ia mulai bisa mengucapkan satu kata sederhana.
MELATIH BAYI MENGOCEH

Jangan lupa dengan melatih bayi berbicara, kita sekaligus akan
merangsang perkembangan emosi, sosial, dan kecerdasannya. Dengan latihan
secara rutin diharapkan lama-kelamaan bayi dapat menjawab ucapan orang
tuanya dengan kata-kata bahkan kalimat. Nah, supaya si kecil tidak
terlambat berbicara, lakukan metode praktis melatih bayi berikut ini
setiap hari:

I. Berbicaralah kepada bayi sebanyak dan sesering mungkin.

1. Bertanya pada bayi, contohnya, “Kamu haus, ya? Mau susu lagi?; Ini
gambar apa?; Ini boneka apa?; Ini warnanya apa?; Ini namanya siapa?”

2. Berkomentar terhadap perasaan bayi. Contohnya, “Kasihan, adik rewel.
Kepanasan, ya? Nah, sekarang dikipasin ya?; “Ooo, kasihan, adik rewel
gatal digigit nyamuk, ya?; “Jatuh ya? Sakit? Sini diobatin!”

3. Menyatakan perasaan ibu/ayah. Contohnya, “Aduh, Mama kangen banget
sama adik. Tadi Mama di kantor ingat terus sama adik. Mmmh, Mama sayang,
deh, sama adik.”

4. Berkomentar tentang keadaan bayi. Contoh, “Tuh, mulutmu mungil, ya!;
“Wah, rambutmu masih botak!”

5. Berkomentar mengenai kemampuan atau perilaku bayi. Contohnya, “Wah,
Rini sudah bisa duduk!”; “Eeee, Tono sudah bisa berdiri?”; “Horee,
anakku sudah bisa jalan!”

6. Bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi. Contoh, “Ini namanya
bantal. Warnanya merah muda. Ada gambar Winnie the Pooh-nya.”; Yang ini
namanya boneka Teletubbies. Ini yang warna merah. Ini yang warnanya
hijau. Yang itu ungu. Nih, coba peluk.”

7. Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan pada bayi. Contoh,
“Adik mandi dulu, ya? Pakai air hangat, pakai sabun, biar bersih, biar
kumannya hilang, biar kulitnya bagus. Sekarang dihandukin biar kering,
tidak kedinginan. Wah, Adik wangi. Sekarang pakai baju dan celana. Nah,
selesai. Enak, kan? Habis ini minum ASI terus tidur, ya?”

8. Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan orang tua.
Contohnya, “Mama sekarang mau bikin susu buat adik! Ini susunya 3 takar
ditambah air 90 ml, terus dikocok-kocok. Terlalu panas enggak? Oh,
enggak. Nah, siap deh!”

II. Dengarkan suara bayi, berikan jawaban atau pujian
Ketika bayi bersuara atau berbicara walaupun tidak jelas, segeralah
ayah/ibu menoleh dan memandang ke arah bayi dan mendengarkan suaranya
seolah-olah mengerti maksudnya. Pandang matanya, tirukan suaranya,
berikan jawaban atau pujian, seolah-olah bayi mengerti jawaban ayah/ibu.
Contoh: Ta-ta-ta-ta? Ma-ma-ma-ma? Kenapa, sayang? Minta susu? Mau pup?
III. Bermain sambil berbicara

– Cilukba. Ayah/ibu mengucapkan, “Ciluuuuuuk!” sambil menutup muka
dengan bantal beberapa detik kemudian bantal disingkirkan sambil
ayah/ibu mengucapkan, “Baaaaaa!”

– Kapal terbang. “Nih ada kapal sedang terbang. Ngengngngngng…” Lalu
arahkan kapal terbang mendekati wajah si kecil terus mendarat di atas
perutnya.

– Boneka. Seolah-olah ayah/ibu berbicara kepada bayi, “Halo, kamu bayi
yang lucu, ya?”

– Menyebutkan anggota badan. Misalnya, “Ini tangan. Ini kaki.
Tiiiik…kitik…kitik., ini jari-jari.”

IV. Bernyanyi sambil bermain.

Putarkan kaset lagu anak-anak, ikutlah bernyanyi, sambil bertepuk tangan
dan goyang kepala. Misalnya, “Pok-ame-ame, belalang kupu-kupu, tepok
biar ramai, pagi-pagi minum …. susu.”; “Cicak-cicak di dinding,
diam-diam merayap, datang seekor nyamuk, …..hap! Lalu ditangkap.”;
“Dua mata saya, hidung saya satu…,” sambil menunjuk ke mata, hidung
dan seterusnya.

V. Membacakan cerita sambil menunjukkan gambar-gambar

Bacakan cerita singkat dari buku cerita anak yang bergambar. Tunjukkan
gambar tokoh-tokoh yang ada dalam cerita seperti binatang, benda-benda,
dan manusia.

VI. Banyak berbicara sepanjang jalan ketika bepergian

Tunjuklah benda-benda atau kejadian sambil menyebutkan dengan kata-kata
secara berulang-ulang. Itu layang-layang sedang terbang, itu kakak
sedang menyeberang jalan, itu burung sedang terbang, itu pohon ada
bunganya, dan lainnya.

VI. Bermain dengan anak lain yang lebih jelas dan lancar berbicaranya

Ajak bayi bermain dengan anak lain seperti kakak, tetangga, atau sepupu
yang sudah lebih jelas berbicaranya. Kemudian, bermain bersama
menggunakan boneka, kubus, balok, lego, buku bergambar dan lainnya.

HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

Menurut Soedjatmiko ada beberapa hal yang mesti diperhatikan orang tua
ketika mengajarkan berbicara pada bayi adalah :

– Jangan memaksa si kecil berbicara.

– Kalau bayi bersuara walaupun tidak jelas, tetap berikan jawaban
seolah-olah ibu/ayah mengerti ucapannya.

– Pujilah segera kalau dia seolah berbicara benar.

– Jangan menyalahkan kalau ucapannya tidak benar.

– Kalau bayi sudah bosan sebaiknya beralihlah ke kegiatan lain yang
menarik dan menyenangkan.

– Jangan memotong ocehan bayi. Inilah alasannya:

(1) Saat mengoceh, bayi sebenarnya sedang berusaha menyampaikan pendapat
atau ide-idenya. Kalau orang tua sampai memotong ocehan bayi, berarti
juga memotong ide yang ingin disampaikan bayi. Perlu diketahui, mengoceh
merupakan bagian dari latihan mengembangkan pendapat maupun ide.

(2) Kalau orang tua sering memotong ocehan bayi, dikhawatirkan si kecil
kelak tak memiliki kepercayaan diri yang kuat. Ia akan selalu takut
untuk berbicara.
(3) Bayi ingin ocehannya diperhatikan dan dihargai. Memotong ocehannya
akan membuat si bayi merasa tak dihargai. Jadi, jangan sekali-sekali
memotong ocehannya.

diambil dari situs balita-anda..??

Daftar Nama Anak

Bagi calon orang tua yang lagi bingung-bingung cari nama anak, mungking ini bisa buat referensi :

  1. nama-anak
  2. nama-nama-anak-perempuan-islamic
  3. nama-nama-anak-islamic

Renungan Untuk Jadi Orang Tua Yang Lebih Baik

Saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para
ORANG TUA…

Tahun yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu Saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi
itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan
kepada Dika “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya
“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan
soal demi soal dalam hitungan menit.

Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh
keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi,
bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada
angka 140 – 160.
Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak
lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
Yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab Itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali Ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian.
Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya
Psikolog Itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah
satu atau beberapa factor penghambat kemampuan verbal Dika.
Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang
jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri,
melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin
ibuku :….”
Dikapun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja” Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk
bermain bebas.
Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan
edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata
di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena
sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai
kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan
Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”
Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku
melakukan sesuatu” Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap
bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk
melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa
saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika
ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya
sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV
secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur
tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru
sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”
Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka
bekerja keras,disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu
yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan
bijaksana.
Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya.
Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak
sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah
orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”
Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain.
Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa” Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak
untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak
memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua
menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar
dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan Untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari
kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak
membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang
…..” Dikapun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting
saja”. Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan
kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk
membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan
pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.
Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu
yang penting untuk anak saya.

Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan
Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,
Dikapun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu
merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin
ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya
sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya
dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang
diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap
hari…….. ” Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya
dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku
erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku” Memang
adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah
tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya
salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang
tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap
hari…..” Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu
kata “tersenyum” Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan
wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku
memanggilku. …” Dikapun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku
dengan nama yang bagus” Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia
lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu
Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu
memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa
diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.
Sedangkan Le dari kata “Tole”. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan
tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku
memanggilku ..” Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo”
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa
Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling”
kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan
Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan
poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a
Choise” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya
telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan
panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah
polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga
kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak
memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi
para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati
anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan
nasehat Tuhan.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2008,
Saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu
berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan.

mencari nama untuk anak

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

apalah arti sebuah nama …. demikian kata om shakespeare soal nama. saya pribadi termasuk orang yg tidak begitu mementingkan makna apa dibalik sebuah nama apalagi nama saya juga ga bagus-bagus amat alias ga terlalu istimewa/unik :). namun ketika tiba giliran saya diberi tanggungjawab untuk mencari nama bagi anak saya yang sebentar lagi akan lahir maka tiba-tiba saja persoalan mencari nama dan makna nama menjadi persoalan yang cukup menyita waktu dan konsentrasi 🙂 apalagi dengan pertimbangan kesesuaian/keserasian makna dibalik nama, nama kecil, nama baptis plus marga ..halah.. satu hal yang hampir pasti menurut hasil USG jenis kelamin anak saya adalah laki-laki sehingga cukup membantu dalam arti saya bisa exclude nama-nama semacam : chyntia, sarah, yanti, siti, dan sejenisnya. namun pun demikian dari sekian banyak kriteria dan alternatif nama-nama bayi laki-laki hingga kini belum pasti mana yang akan diambil 😦 memang ternyata banyak sekali alternatif nama-nama yang bagus-bagus semacam george, revaldo, jack dll cuma kayaknya ga sreg juga kalo sekedar enak didengar. keluarga (terutama istri) maunya selain enak didengar juga bermakna ..halah…

lalu saya mencoba mencari bala bantuan di internet via google dengan keyword ‘tips + nama anak’ dan saya menemukan ‘9 tips memberi nama anak’ yang ternyata sudah tersebar di banyak lokasi (blog, situs, milis, dll) dan ga tau siapa yg pertama kali ‘menciptakan’ tips ini. kira-kira begini isi ke 9 tips tersebut :

1. Nama itu mengandung do’a.
Nama anak itu cermin harapan orang tua. Nama itu mengandung Do’a.Tetapi do’anya yang singkat saja. Kalau terlalu panjang nanti dikira Tahlil atau Wirid. Kalau dipanggil bukannya nengok, malah bilang “Amiinn..”

2. Nama jangan nyusahin orang Kelurahan
Nama anak mudah dibaca dan mudah ditulis. Meskipun tampaknya bagus,jangan pakai huruf mati yang digandeng-gandeng atau didobel-dobel (mis.Lloyd,Nikky, Thasya dll). Biasanya sama petugas Kelurahan akan terjadi salah tulis dalam pembuatan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, KTP dll.Nah… nggak enaknya lagi kalo kita minta revisi biasanya kena biaya lagi… dan prosesnya lama lagi.

3. Nama jangan cuma satu kata
Minimal ada First Name, Nick Name dan Family name gitu loh…. Ini penting terutama kalo pas lagi ngurus Paspor atau Visa. Nggak jadi berangkat ke Amrik hanya gara-gara namanya cuma Prakoso atau Pamuji atau Paryono khan esiaan…

4. Nama jangan terlalu panjang
Nama yang panjang bererot bisa bikin susah si pemilik nama. Disamping susah ngingetnya, juga ngerepotin waktu ngisi formulir pendaftaran masuk Perguruan Tinggi Negeri (dulu UMPTN). Itu lho..yang ngitemin buletan-buletan pakai pensil 2B. Capeek khaan… Nama panjang seperti Siti Hartati Riwayati Mulianingsih Adiningrum Mekar Berseri Sepanjang Hari…. adalah sangat-sangat not-recommended.

5. Nama anak bersifat internasional
Anak kita hidup dimasa depan, di era globalisasi dimana hubungan dengan dunia internasional amat sangat intens. Jadi jangan mempersulit anak dengan nama-nama yang sulit di-eja. Nama Saklitinov msalnya orang Jepang nyebutnya Sakuritino, orang Sunda bilang aktinop orang Amrik bilang Sechlaytinove… Syusah khaaannn Padahal maksudnya Sabtu Kliwon Tiga November…

6. Ketahuilah arti nama anak
Ketahuilah arti nama anak. Jangan memberikan nama hanya karena enak diucapkan atau bagus ditulisnya. Nama Jalmowono memang sepintas enak diucapkan dan bagus kalo ditulis tetapi ketahuilah bahwa Jalmowono itu artinya Orang Utan.

7. Jangan pakai nama artis.
Nama artis memang bagus-bagus, cuma masalahnya kalau artis itu kelakuannya baik… lha kalau jadi bahan gosip melulu khan jadi beban juga buat si anak. Lagian pakai nama artis itu tandanya anda gak kreatif dalam bikin nama.

8. Abjad huruf pertama nama anak.
Huruf pertama “A” pada nama anak ada enak gak enaknya. Gak enaknya kalau pas ada ujian/test/wawancara sering dipanggil duluan. Gak sempet nanya-nanya ama temannya. Tapi kadang-kadang juga pas giliran dapat pembagian apa gitu, dapetnya juga sering duluan. Sebaiknya ambil huruf pertama itu antara D sampai K. Cukupan lah… Huruf depan Z… wah.. biasanya adanya dibawah…

9. Jangan sok Kebarat-baratan
Jangan memberi nama anak dengan bergaya kebarat-baratan, biar dibilang keren. Kudu diinget, anda lahir dibumi Indonesia, orang Indonesia, kultur ya tetap orang Indonesia. Kalau nama keindo-indoan, tapi mukanya ya melayu-melayu juga, malu sendiri kan, anaknya ya ortunya.. Lagian kalo kejepit toh bilangnya “adawww….” bukan “Oh my God..”

plus 7 tips dari http://www.infoibu.com berikut ini :

1. Indah di dengar dan serasi.
Pilihlah nama yang terdengar indah sewaktu diucapkan dan serasi dengan nama keluarga anda, bila anda menggunakan nama keluarga dibelakang nama yang akan anda pilih.

2. Unik
Memilih nama yang unik tetap ok asalkan i tetap indah didengar, serasi dan mudah diucapkan. Unik tidak berarti menjadi nama yang terdengar aneh atau sulit diucapkan.

3. Makna Positif dalam kehidupan.
Memilih nama yang mengandung makna dan arti yang positif untuk kehidupan, ini salah satu yang penting, jangan memberi nama yang mengandung arti dan makna buruk. Ingat nama ini akan dibawa selamanya oleh anak anda.

4. Nama panggilan yang mudah
pilihlah nama yang mudah untuk mengambil nama singkat atau panggilan sehari-hari.

5. Pengucapan Yang Mudah.
Pilihlah nama yang mudah untuk diucapkan.

6. Memilih nama bagi anak laki dan perempuan
Pertimbangkn untuk memilih nama yang menunjukkan jenis kelamin yang jelas.

7. Tampunglah semua ide-ide nama yang ada dengan suatu daftar list, bisa dari majalah, tv, atau keluarga dan teman anda. Sebaiknya JANGAN memberitahu dahulu keputusan nama yang akan anda berikan kepada siapapun sampai kelahiran si kecil anda. Dan JANGAN membiarkan siapapun memaksa anda untuk memberikan nama yang anda tidak suka.

other resources (mungkin berguna juga buat rekan/teman yg sedang pusing cari nama buat anak 🙂 ) :

http://www.babynames.com
http://www.thinkbabynames.com/
http://www.babycenter.com/babyname
http://www.babynameguide.com
http://www.jasaumum.com

hmm… tips-tips nya bagus-bagus juga.. cuma masih bingung nih mau kasi nama apa .he.he.he.. ada idekah?

Nadia Jr

Kalo namanya “Marsa Nadia Ramadhani“, menurut anda?